Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Mak Iyah yang Tak Pernah Lelah Menjajakan Koran

22 Dec 2016 // 14:53 // HEADLINE, KAWAN KITA

images

JAKARTA (suarakawan.com) – Tepat pukul 10.00 WIB, Sadiyah sampai di persimpangan lampu merah Senen, Jakarta Pusat. Di depan pelataran sebuah toko piala, wanita yang juga akrab disapa Mak Iyah ini, merapikan koran-koran yang merupakan barang dagangannya. Menata dan mengelompokkan, agar tiap nama Koran dan berita utama terlihat oleh para pembeli.

Saat lampu merah kembali menyala, dengan sebuah tongkat kecil di tangan kanan, dan setumpuk Koran di tangan kirinya, Mak Iyah menjajakan korannya ke tiap pengendara yang berhenti. Baik motor maupun mobil. Sudah hampir empat kali lampu merah tak ada satu koran pun yang terjual dari tangan Mak Iyah yang keriput.

Menurutnya, kini tak banyak orang yang membeli koran. Tidak seperti waktu ia pertama kali berdagang koran delapan tahun yang lalu.

Ketimbang membeli koran, menurutnya, para pengendara lebih asik dengan gawai ketika tiap di persimpangan lampu merah.

“Sekarang mah susah, sepi. Sekarang saya jualan koran orang-orang malah pada main handphone, tangannya pada begini (menolak),” ungkap wanita kelahiran Jakarta, 64 tahun yang lalu itu.

Menurutnya, dahulu hampir tiap lampu merah, ia selalu menjadi rebutan para pengendara yang ingin membeli. Belum lagi harus berkejaran dengan durasi dari lampu merah. Namun, sekarang tidak demikian. Peminat media cetak tak sebanyak se-dekade silam.

Setiap harinya, ia mesti ke sebuah agen koran di Jalan Kramat Raya. Di sana ia memilah, dan menyusun, koran apa yang akan diambilnya yang nantinya dijajakan hari ini.

Setiap harinya tak banyak yang bisa dikumpulkan Mak Iyah dari hasil berjualan koran.

Hanya berkisar di nominal Rp50 ribu. Itupun ia harus kembali memutar otaknya. Karena, dari uang yang didapatnya, ia harus bisa membaginya dengan baik. Untuk biaya hidupnya sehari hari, dan juga untuk bayar uang sewa kontrakan yang ditempatinya bersama anak laki-lakinya.

“Bersih paling Rp30 ribu, belum buat bayar sewaan, sebulan Rp500 ribu.

Selain anak laki-lakinya, Mak iyah mengaku memiliki satu anak perempuan lagi. Hanya saja, yang tinggal dengannya adalah anak laki-lakinya yang kurang lebih berusia 30 tahun.

Sambil Mak Iyah berdagang koran, anak laki-laki satu-satunya itu juga mengasongkan tisu di lampu merah yang sama.

Arti Ibu bagi Ibunda Sandiaga Uno
Sepintas memang tak ada yang aneh dengan anak laki-lakinya. Sama seperti pedagang asongan lainnya. Namun menurut Mak Iyah, ternyata anak laki-lakinya memiliki sedikit masalah.

“Ini juga anak ibu agak stres begitu. Ini saja masih minum semacam obat penenang,” ujarnya.

Menurut Mak Iyah, meski demikian, anak tersebut adalah darah dagingnya. Anak yang keluar dari rahimnya. Sehingga apapun kondisinya, ia akan tetap menyayanginya.

“Ya tinggal dengan saya, semua saya rawat. Misal saya ingatkan untuk rutin minum obat. Biar gimanapun juga, dia tetap anak saya,” ujarnya.

Suka dukanya sebagai penjual koran juga tidak bisa dianggap remeh. Di awal memilih berjualan koran, ia sempat ragu, karena Mak Iyah yang hanya sekolah hingga kelas 1 SD, tak begitu piawai dalam membaca. Sehingga ia tak bisa membedakan nama-nama koran yang didagangkannya.

“Ya saya suruh pilih aja, mereka mau beli yang mana,” katanya. Lama kelamaan, ia pun mulai tahu nama tiap koran, dan ciri khas dari masing masing koran.

Belum lagi soal keselamatan. Berjualan di lampu merah bukan tanpa risiko. Terlebih bagi Mak iyah yang sudah tua renta, dan menggunakan tongkat sebagai alat bantu jalannya. Kakinya yang sedikit bengkok, membuatnya tak bisa meninggalkan tongkat ke mana pun ia pergi.

Kondisi itu, menimpanya beberapa tahun lalu saat dirinya masih menjadi buruh cuci. Ketika berjalan di tepi, tiba-tiba saja sebuah taksi menghantamnya. “Waktu itu saya cuma dapat uang ganti Rp20 Ribu. Dahulu sudah lumayan segitu,” katanya.

Tak hanya itu, jika hujan tiba, ia juga mesti berkejaran untuk menyelamatkan barang dagangnya. Jika tidak, koran yang dibawanya tentu akan basah dan rusak. ”Iya, kalau hujan apalagi, repot, harus pakai plastik. Pakai jas hujan. Yang penting mah saya selamatin korannya dahulu, baru habis begitu saya pakai jas hujan. Soalnya saya takut sakit juga, sudah tua begini, kalau sakit makin repot,” katanya. (viv/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini