Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

LSR: Calon Tunggal Di Pilkada Jatim 2018 Sulit Terwujud

01 Jun 2017 // 21:23 // HEADLINE, PILKADA

20170601_114841

SURABAYA (suarakawan.com) – Rivalitas politik menjelang Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 dan faktor modal akan memunculkan banyak kandidat. Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf tidak akan maju sendirian dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jatim 2018 mendatang.

“Wacana calon tunggal dalam Pilkada Jatim 2018 mendatang diprediksi sulit terwujud. Akan banyak andidat penantang incumbent Saifullah Yusuf, yang lebih dulu didukung PKB,” kata Ketua Lembaga Survey Regional (Lesure) Mufti Mubarok kepada wartawan di Surabaya, Kamis (1/6).

Dijelaskan, kepentingan politik yang berbeda antara Joko Widodo, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo Subianto jelang Pilpres jelas akan memunculkan banyak kandidat. Pasalnya, ketiga tokoh itu punya kepentingan agar Gubernur Jatim bisa menjadi pendulang suara dalam Pilpres mendatang.

“Rivalitas politik antara Jokowi dan Prabowo kan masih kuat dan kemungkinan mereka akan maju di Pilpres. Mereka berkepentingan agar calon yang didukung menang di Jatim,” ujarnya.

Selain faktor perbedaan kepentingan, kandidat juga harus punya modal finansial yang kuat. Modak besar yang dimiliki akan dipakai untuk “membeli” parpol agar memberikan dukungan dalam Pilgub mendatang.

“Kita lihat ketika Pilgub 2012 lalu, Karsa dengan modal yang besar saja masih kecolongan. Apakah kandidat sekarang punya kekuatan finansial sebesar itu,” tambahnya.

Kareba itu, pertarungan dalam Pilkada Jatim 2018 mendatang masih tetap seru. Pasalnya, sesuai hasil survei lembaganya, elektabilitas atau tingkat keterpilihan kandidat masih dibawah 40 persen.

Gus Ipul yang unggul pada kisaran angka 37 persen, masih bisa disalip Tri Rismaharini yang bertengger di posisi kedua dengan 34 persen dan Khofifah Indar Parawansa dengan elektabilitas 33 persen.

“Segala kemungkinan masih terjadi, di Jakarta Ahok yang unggul jauh masih bisa kalah oleh Anis. Kalau di Jatim masih cair karena elektabilitasnya masih dibawah 40 persen semua,” tandasnya.

Mufti melihat, peran kiai muda yang melek medsos juga akan menjadi penentu bagi kemenangan kandidat. Pasalnya, mereka yang mulai “memberontak” kepada para kyai tua lebih efektif menciptakan opini dan menciptakan basis dukungan daripada mesin politik kyai tua yang cenderung masih tradisional.

“Kalau Gus Ipul ingin menang juga harus merangkul kiai muda atau para gus. Mereka lebih efektif dalam sosialisasi dan menciptakan opini karena paham medsos daripada figur kiai tua yang hanya memberikan intruksi secara lisan,” paparnya.

Seperti diketahui, dalam survei yang dilakukan Lembaga Survey Regional menyebutkan Saifullah Yusuf unggul dengan elektabilitas 37 persen dan tingkat popularitas 86 persen. Gus Ipul unggul di 8 kabupaten/kota di Jatim. Diposisi kedua ada Walikota Surabaya Tri Rismaharini dengan elektabilitas 34 persen dan popularitas 78 persen.

Dalam survei itu, Risma unggul di 6 kabupaten. Sementara itu, Khofifah Indar Parawansa ada diposisi ketiga dengan elektabilitas 33 persen dan popularitas 77 persen. Khofifah ungg

Artikel Terkait

comment closed




  • Terkini