Kuncinya Pada Hati

Tidak ada komentar 11 views

Koko Srimulyo

SURABAYA (suarakawan.com) – Dewasa ini, yang semakin tumbuh pesat adalah masyarakat industri yang  berpola pikir kapitalistik. Dampaknya, kejujuran menjadi barang langka.  Jangankan di tingkat elit yang tega melakukan korupsi dan manipulasi, dikalangan bawahpun banyak ditemui ketidakjujuran.

“Salah satu contohnya penjual gorengan yang jualannya dicampuri boraks, lalu plastik  bungkus minyak goreng ikut digoreng agar gorengan lebih renyah. Serta  masih banyak lain ketidakjujuran lain. Bahkan bukan tak mungkin pada kita  sebagai pustakawan,” papar Kepala Perpustakaan Unair Koko Srimulyo dalam acara Oase Ramadhan dihadapan ratusan staf perpustakaan Unair, Senin (01/08).

Menurut Koko, hal itu bisa terjadi karena pekerjaan dilakukan dalam motif  mencari uang semata. Bukan sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah,  bukan sebagai ibadah yang berorentasi amal yang segala sesuatunya dilandasi hati.

Pria yang juga menjadi dosen di jurusan perpustakaan Fisip Unair ini  lantas menyitir hadist Nabi yang diriwayatkan oleh HR Bukhari-Muslim mengenai hati. Bahwasanya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Kalau  segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Bila rusak,  niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya, segumpal daging itu bernama Kalbu.

“Alkisah, seorang murid pernah bertanya kepada Imam Syafi’i kenapa dirinya  sulit menerima pelajaran. Imam Syafi’i lantas menjawab bahwa hati itu  ibarat sebuah gelas. Apabila gelas tersebut berisi cairan kotor, maka  seberapa kuat cahaya itu tak mampu menembus kotoran tersebut. Jadi kalau  misal kita sering ikut majelis taklim tapi sulit menerima perbaikan bisa jadi  hati kita kelam sehingga cahaya sulit masuk,” imbuhnya.

Untuk itu, dalam kesempatan Oase Ramadhan ini, Koko ingin mengajak semua  jemaah untuk merenung dan mengenali siapa sesungguhnya diri kita. Dengan mengenal  hati nuraninya maka seseorang akan bisa mengenal Allah.

“Jika seseorang tidak mengenal hati nuraninya maka penilaiannya akan bias.  Segala sesuatu dinilai secara materi. Sukses dinilai dari jabatan atau pada kemewahan. Padahal semua itu sementara, Hari ini kita bisa jadi kaya padahal besok bisa jadi miskin dalam sekejap kalau Allah berkehendak,” pungkas Koko. (nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Kuncinya Pada Hati"