Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Kondisi Kependudukan di Jakarta Mendekati Titik Kritis

03 Jul 2017 // 20:22 // HEADLINE, POLITIK & PEMERINTAHAN

djarot_jakartasatuco

JAKARTA (suarakawan.com) – Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengakui, kondisi kependudukan di wilayahnya saat ini mendekati titik kritis. Dengan daya dukung yang ada saat ini, beban maksimal Jakarta menampung 12,5 juta penduduk. Jumlah itu diprediksi baru akan terjadi pada 2030.

Namun, kenyataannya saat ini pada siang hari ada sedikitnya 14,5 juta warga yang beraktivitas di Jakarta pada siang hari. Adapun jumlah penduduk Jakarta sendiri saat ini mencapai 10,2 juta jiwa.

Oleh karenanya, arus urbanisasi yang selalu terjadi seusai Idul Fitri menjadi perhatian pihaknya. Setiap tahun, sedikitnya 65.000 pendatang baru datang ke Jakarta memanfaatkan momentum arus balik Lebaran.

Secara keseluruhan, jumlah pendatang ke Jakarta setiap tahun rata-rata mencapai 100.000 orang. “Bahkan tahun kemarin jumlah pendatang baru mencapai 135.000 orang. Pernah juga sekitar 140.000 orang. Tapi rata-rata 100.000 orang pendatang,” kata Djarot, di Jakarta, Senin (3/7).

Dia mengharapkan, tahun ini semakin sedikit pendatang baru yang menetap di Jakarta. “Karena, kota ini sudah sangat padat, tidak mampu lagi menampung warga daerah lain yang ingin mengadu nasib di sini,” jelas mantan wagub DKI Jakarta ini.

Menurut Djarot, dengan luas wilayah sekitar 740 kilometer persegi, idealnya Jakarta hanya menampung 7,5 juta jiwa. Namun, tahun ini jumlah penduduk Jakarta sudah mencapai 10,2 juta jiwa.

“Itu (jumlah) di malam hari. Kalau di siang hari, jumlah penduduk di Jakarta bisa mencapai 14,5 juta jiwa. Ini menjadi beban Jakarta. Karena setiap orang yang datang ke Jakarta membutuhkan ruang, tempat, pijakan untuk bisa hidup. Jadi bukan hanya menyangkut masalah tempat tinggal, tetapi persoalannya macam-macam,” ujarnya.

Bila pendatang baru tidak dibatasi, lama kelamaan Jakarta tidak akan mampu menampung lagi kedatangan warga daerah lain. Kondisi ini tentu membawa dampak semakin maraknya perkampungan padat penduduk, perkampungan kumuh dan miskin, serta meningkatkan kemiskinan dan kriminalitas.

Karena itu, Pemprov DKI melakukan kegiatan untuk membatasi pertambahan penduduk DKI Jakarta akibat urbanisasi. Sebab, batas penduduk di Jakarta pada 2030 maksimal mencapai 12,5 juta orang. Batas itu sudah terlampaui bila melihat data penduduk Jakarta di siang hari yang mencapai 14,5 juta jiwa.

“Beberapa negara yang kota-kotanya sangat padat penduduk telah menjadi kota yang tertutup. Seperti di Tiongkok, misalnya, Kota Beijing, Guangzhou, dan Shanghai, sekarang sangat ketat bagi untuk pendatang. Tetapi Jakarta belum bisa seperti itu,” ungkapnya.

Kota Terbuka

Dia menegaskan, Jakarta tetap menjadi kota terbuka bagi warga daerah lain yang ingin berkunjung dan menetap. “Bagi warga daerah lain yang ingin mengadu nasib di Jakarta, disertai dengan keterampilan atau keahlian khusus, Pemprov DKI juga menerimanya dengan tangan terbuka. Jakarta masih sebagai kota terbuka. Silakan datang ke sini, tapi yang punya keterampilan. Sehingga ketika di sini tidak menjadi pengangguran. Atau mereka rata-rata yang tidak punya keterampilan akhirnya kerja di sektor informal,” jelasnya.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta, Edison Sianturi mengungkapkan, dalam lima tahun terakhir ini, jumlah rata-rata pendatang baru ke Jakarta mencapai 62.000. Sedangkan pada 2016, jumlah pendatang baru mencapai 68.763 jiwa. Karena itu ia memprediksi, pendatang baru pada tahun 2017, akan mencapai di kisaran 62.000 hingga 68.000 jiwa.

“Kalau mengacu pada lima tahun terakhir ini, rata-rata 62.000 dan tahun kemarin sebanyak 68.763 jiwa, maka kami prediksi tahun ini pendatang baru di Jakarta akan mencapai antara 62.000 hingga 68.000 orang,” katanya.

Berdasarkan data Dukcapil DKI Jakarta, dalam empat tahun terakhir ini, jumlah pendatang baru di Jakarta selalu mengalami naik turun. Meski demikian, adanya urbanisasi ini telah membuat jumlah penduduk di Ibu Kota juga semakin meningkat.

Tercatat, pada tahun 2013, populasi penduduk di DKI Jakarta ada sebanyak 9,9 juta jiwa. Selama empat tahun, pada tahun 2012, populasi penduduk di DKI sudah mencapai 10,2 juta jiwa. Artinya ada penambahan populasi penduduk sekitar 300.000 jiwa dalam waktu empat tahun. Bila dirata-ratakan, ada sekitar 75.000 pendatang baru yang kemudian menjadi warga Jakarta.

Dia mengakui, pemerintah pusat sudah menempuh banyak upaya memeratakan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Mulai dari pembangunan infrastruktur untuk mempermudah kegiatan perekonomian antarwilayah, hingga mengalirkan dana desa yang rata-rata sebesar Rp 800 juta per desa.

Namun, dari semua upaya untuk menggerakkan pembangunan desa tidak serta merta mematahkan arus urbanisasi warga desa ke kota-kota besar di Indonesia. “Jakarta merupakan kota besar yang tetap menjadi sasaran utama urbanisasi,” tandasnya.

Urbanisasi besar-besaran, lanjutnya, selalu terjadi saat pascalebaran. Di saat warga Jakarta kembali ke Ibu Kota, mereka pun tak lupa membawa sanak saudara, kerabat dan keluarga dekat untuk menikmati tinggal di Jakarta.

“Awalnya, mereka sekadar ingin menikmati kehidupan di Jakarta. Seperti tempat wisata, pusat perbelanjaan, transportasi yang lebih baik, atau sekadar ingin membuktikan dan merasakan secara langsung apa yang selama ini diketahuinya dari pemberitaan di media massa mengenai kemajuan Kota Jakarta,” jelasnya.

Kemudahan yang didapat di Jakarta, akhirnya membuat para warga daerah lain ini mengubah tujuan kedatangannya di Jakarta. Mereka pun memilih ingin tinggal dan menjadi warga Jakarta.

“Tetapi mereka kerap kali lupa, tanpa keterampilan atau keahlian khusus untuk bekerja, mereka tidak akan bisa bertahan hidup dengan baik,” ujarnya. (bs/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini