Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Kondisi Kemantapan Jalan di Jatim Belum 100 Persen

20 Jun 2017 // 06:29 // EKONOMI
(ki-ka): Direktur PT Jatim Grha Utama, Moch Rudiansyah, Staf Ahli Gubernur bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Jawa Timur dan Ketua LPJKP Jatim, Gentur Prihantono dan Kepala Bidang Bina Teknik Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur, Martin Ma'ruf .

(ki-ka): Direktur PT Jatim Grha Utama, Moch Rudiansyah, Staf Ahli Gubernur bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Jawa Timur dan Ketua LPJKP Jatim, Gentur Prihantono dan Kepala Bidang Bina Teknik Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur, Martin Ma’ruf .

SURABAYA (suarakawan.com) – Di pulau Jawa termasuk Jawa Timur, 90 persen arus lalu lintas barang masih mengandalkan transportasi darat. Karena itu kualitas kualitas jalan harus terus ditingkatkan.

”Anggaran untuk program menaikkan kemantapan jalan tahun ini sekitar Rp 4-5 miliar per kilometernya,” kata Kepala Bidang Teknik Dinas PU Bina Marga Jawa Timur, Martin Ma’ruf saat diskusi ‘Merealisasi Pembangunan Infrastruktur demi Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi di Jawa Timur’, Senin (19/6) kemarin.

Lebih lanjut Martin mengungkapkan, kondisi kemantapan jalan di Jatim masih belum mencapai 100 persen. Ia mencontohkan, jalan nasional di provinsi ini, tingkat kemantapannya masih mencapai 94 persen. Program pemantapan yang dilakukan yaitu merekondisi seperti melapis ulang jalan yang rusak. Prioritas pemantapan jalan dilakukan di daerah-daerah labil yang sering mengalami kerusakan seperti Bondowoso, Bojonegoro atau Babat dan Ploso.

Sementara itu, lanjutnya, transportasi jalan memiliki dua persoalan utama. Pertama, perbandingkan pertumbuhan kendaraan dengan panjang jalan yang tidak sesuai. Perbandingannya sangat jauh, mencapai 1:12. Jika pertambahan kendaraan baik roda dua maupun roda empat mencapai 11-12 per tahun, pertumbuhan jalan tidak sampai 1 persen.

“Pertumbuhan kendaraan dibanding jalan, kata Martin, 1: 12, 11-12 persen tiap tahun. Sementara jalan jalan nasional secara keseluruhan sepanjang 2.361,23 km, Jalan provinsi : 1.421,00 km dan Jalan kabupaten/kota : 36.871 km,” jelasnya.

Martin mengungkapkan pemerintah berencana membangun 600 km panjang tol, terdiri Trans Java mulai dari Jakarta-Banyuwangi, non Trans Java Pandaan- Malang, Legundi-Bunder. Ada sembilan ruas jalan tol yang saat ini pembangunannya sedang dilaksanakan di Jawa Timur. Dari 600 km sudah beroperasi 130 km, dan 40 persen jalan Trans Java ada di Jawa Timur.

Staf Ahli Gubernur bidang Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Jatim dan juga Ketua LPJKP Jatim, Dr Ir Gentur Prihantono, MT, menegaskan tidak ada jalan yang diam. Semua jalan sudah terbebani dan sangat berat sehingga cepat rusak.

Paling berat bebannya, kata Gentur, ada di jalan nasional. “Ini karena jalan nasional menjadi tumpuan alat transportasi utama di pulau Jawa mulai Jakarta sampai Banyuwangi. Bisa dilihat bagaimana beban jalur pantura di Tuban, tidak pernah sepi dari muatan truk dengan tonase besar,” ungkapnya.

Menurut Gentur, pembangunan jalan harus diiringi dengan perawatan yang memadai. Bila tidak, justru menjadi penyebab utama kemacetan dan kecelakaan. Soal pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS) dan Jalur Lintas Utara (JLU), pemerintah juga harus memiliki skala prioritas mana yang didahulukan dan jalan pendukung.

Ia berharap, jangan sampai pembangunan JLS dan JLU justru mengganggu konektivitas transportasi yang ada. Saat ini pembangunan JLS belum tuntas, sama halnya dengan JLU. (bng1/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini