Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Komisi E Desak Dinkes Jatim Tarik dan Stop Peredaran Obat PCC

15 Sep 2017 // 21:22 // DAERAH, HEADLINE, PERISTIWA

IMG-20170915-WA0008

SURABAYA (suarakawan.com)Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur meminta kepada Dinkes Jatim bekerjasama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan pengawasan terhadap apotek di Jatim, serta segera melakukan koordinasi dengan beberapa pihak terkait. Hal ini dilakukan untuk antisipasi agar Obat PCC (Paracetamol Caffein Carisoprodo) tidak mudah dikonsumsi masyarakat Jawa Timur.

“Saya langsung minta kepada Dinas Kesehatan Jatim, BPOM Wilayah Jawa Timur, dan Dinas Pendidikan Jatim, untuk melakukan pencegahan awal tersebut,”ujar Wakil Ketua komisi E DPRD Jatim, Heri Sugiono ditemui di DPRD Jatim, Jumat (15/9).

Bahkan pihak, Komisi E juga meminta agar pihak-pihak tersebut untuk mengumpulkan bahan-bahan untuk segera dirapatkan bersama. Dinkes dan BPOM akan diminta untuk melakukan pendataan apakah obat tersebut sudah beredar di Jatim dan berapa jumlahnya. “Kalau memang ada obat PCC di Jatim, agar segera dilakukan pembatasan peredarannya,” pinta Heri.

Sedangkan untuk Dinas Pendidikan, diminta untuk segera melakukan pengawasan sekolah-sekolah baik itu SD, SMP, SMA/SMK bahkan perguruan tinggi supaya memastikan siswanya tidak ada yang menkonsumsi obat ini.

“Kami akan panggil mereka semua untuk koordinasi sekaligus evaluasi, dan kami harap ada langkah kongkrit untuk antisipasi peredaran obat PCC itu di masyarakat, supaya tidak muncul korban di Jawa Timur,” terangnya.

Heri politisi asal Fraksi Golkar Jatim ini, juga prihatin atas jatuhnya korban dari remaja pelajar dan mahasiswa akibat penyalahgunaan obat PCC dan dirawat di sejumlah rumah sakit di Kota Kendari karena mengonsumsi obat PCC.

“Kami tidak ingin kejadian di Kendari itu, menimpa anak-anak muda pelajar di Jawa Timur, karena obat PCC ini jelas sangat membahayakan,” tegasnya

Sebelumnya, seorang anak yang baru kelas 6 SD meninggal setelah mengkonsumsi obat jenis golongan G ini. Korban sempat dirawat di rumah sakit Bhayangkara Kendari, namun pada pada Selasa (12/9) korban dinyatakan meninggal.

Tak cuma itu, total korban penyalahgunaan obat di Kendari mencapai 57 orang yang dirawat di 5 Rumah Sakit di Kota Kendari. Mereka terdiri dari usia remaja, pria dan perempuan dewasa.

Heri menambahkan, obat PCC ini sudah seharusnya ditarik dari peredaran karena berdampak pada kehilangan kesadaran. Kalaupun harus digunakan, tetap memerlukan pengawasan dokter.

“Sebaiknya obat ini dilarang beredar. Tapi kalau pun masih beredar, maka golongan obat yang penggunaannya terbatas dan harus dengan resep dokter. Tidak bisa digunakan sembarangan apalagi sampai dibagikan gratis, jangan sampai,” pungkasnya. (aca/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini