Kisah Haru Nenek Ma’anih Mencari Keadilan 14 Tahun Lamanya

BOGOR (suarakawan.com) – Tangis Ma’anih tak lagi bisa dibendung. Ia sesenggukan sembari memeluk sejumlah pengacara yang berhasil membuat perjuangannya selama ini tak sia-sia. Peristiwa mengharukan itu terjadi di Pengadilan Agama Cibinong, Bogor, Jawa Barat, pada Rabu, 7 Maret 2018.

Wanita berusia 80 tahun itu telah 14 tahun hidup dalam kesengsaraan akibat tanah satu-satunya yang dimiliki, seluas 1.000 meter di kawasan Jalan Raya Bogor, Pabuaran, diserobot oleh dua keponakannya. Mereka sempat menguasai tanah itu dengan klaim hibah.

Setelah belasan tahun mencari keadilan dengan berganti-ganti pengacara, akhirnya usaha nenek sebatang kara itu tak sia-sia. Gugatan sejak tahun 2004 atas tanahnya dikabulkan oleh majelis hakim Pengadilan Agama Cibinong. Mejelis menilai, Ma’anih adalah ahli waris yang sah.

“Alhamdullilah Ma’anih binti Bocin akhirnya bisa mendapatkan apa yang menjadi haknya selama ini. Hakim memutuskan tanah itu miliknya. Tanah itu milik Pak Bocin, tadinya dikuasakan oleh adiknya Ma’anih, yakni Ismi’an. Tapi karena adiknya itu sudah meninggal, ya, otomatis diwariskan ke dia (Ma’anih),” kata kuasa hukum Ma’anih, Mukhlis Effendi, kepada wartawan.

Ma’anih adalah satu-satunya ahli waris yang masih hidup. Ia selama ini hidup sebatang kara dan tak mempunyai tempat tinggal. Dengan dalih hibah, kedua keponakannya itu membuat hidup Ma’anih semakin menderita.

“Pada dasarnya, kalau pun hibah, ya, cuma sepertiga berdasarkan hukum Islam, tapi ini tidak ada kejelasan, dan mereka itu bukan ahli waris, jadi enggak ada hak. Tadi gugatan kita sudah dikabulkan oleh hakim Pengadilan Agama Cibinong, bahwa sah ini milik Ma’anih sebagai ahli waris. Artinya surat hibah itu gugur,” kata Mukhlis.

Karena tak kuasa menahan haru, Ma’anih sempat sujud syukur di Pengadilan Agama Cibinong. Ia bahkan sempat menangis sambil memeluk sejumlah kuasa hukum itu. Selanjutnya, rekomendasi dari Pengadilan Agama ini akan dilampirkan dalam gugatan lanjutan ke Pengadilan Negeri Cibinong.

“Langkah selanjutnya kita juga akan melakukan gugatan ke Pengadilan Cibinong terkait perdatanya. Kita juga akan melaporkan unsur pidana, karena ada unsur penyerobotan dan dugaan pemalsuan tanda tangan. Kita juga ajukan pembatalan hibah berdasarkan rujukan Pengadilan Agama Cibinong,” kata Mukhlis. (viv/rur)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Kisah Haru Nenek Ma’anih Mencari Keadilan 14 Tahun Lamanya"