Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

KGP: Kondisi Adu Domba Jelas Terlihat

02 Dec 2016 // 10:59 // POLITIK, POLITIK & PEMERINTAHAN

fb_img_1480244406370

JAKARTA (suarakawan.com) – Bahaya komunis dianggap sudah di depan mata. Padahal sebelumnya, baik Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto menerapkan batasan-batasan yang bertujuan melindungi pelaku usaha pribumi yang jauh tertinggal.

Saat ini kondisi adu domba jelas terlihat, baik lewat spanduk dan medsos dengan mengirimkan berita simpang siur. Mengingatkan friksi di era Orla, antara kelompok muslim dan Partai Komunis Partai Komunis Indonesia. Lucunya bahaya keberadaan simbol palu arit ditanggapi dengan enteng oleh elit pejabat yang bertanggung jawab. Padahal kesenjangan ekonomi makin meluas saat ini.

“Saya harap kaum pribumi nusantara membaca sejarah, siapa yang memerdekakan Negara ini kalau bukan tokoh-tokoh kaum pribumi, mulai 1908, 1928,1945?” tanya Ketua Front Pribumi Ki Gendeng Pamungkas, belum lama ini.

KGP himbau kepada seluruh anggota mencermati penegakkan hukum terhadapAhok atas kasus Al-Maidah ayat 51. Ia berharap penegak hukum merujuk perlakuan yang diterima Arswendo, Permadi, Lia Aminudin dan Musadek.

KGP berharap polisi bertindak proporsional dan tidak diskriminatif. Ulama pun hendaknya meningkatkan mutu dakwah bukan lagi seperti hiburan maupun tontonan belaka. Harus ada variasi aplikasi di lapangan sesuai kenyataan hidup.

Lebih lanjut KGP berharap rumah ibadah umat Islam dibuka 24 jam bukan hanya pada saat waktu sholat saja. Sebab masjid dan surau pun bisa menjadi tempat pendidikan informal selain ada madrasah di luar sekolah formal.

Kesalahan dan kelemahan umat Islam dilakukan oleh umat Islam itu sendiri bukan oleh umat lain. Banyaknya korban tewas pada saat tragedi beberapa kali pemberontakan komunis lalu harus menjadi pelajaran.

“Jadilah tuan rumah yang kuat di negara sendiri! Harus yang menentukan arah Indonesia yang sesungguhnya sesuai cita-cita founding father. Segera evaluasi berapa lagi sisa tanah yang dimiliki oleh pribumi. Oleh karena itu kami berharap pemerintah menetapkan adanya Hari Anti Komunis bila benar tidak ingin dikatakan dibawah pengaruh Cina,” simpulnya. (hans)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda






  • Terkini