Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

KGP Blak-blakan Soal Front Pribumi

22 Oct 2017 // 08:49 // POLITIK & PEMERINTAHAN

5912df026abcd-ki-gendeng-pamungkas_663_382

JAKARTA (suarakawan.com) – Praktisi Hukum, Eggi Sudjana mengakui sebagai saksi hidup perjalanan Ki Gendeng Pamungkas (KGP) dan Front Pribumi ketika melakukan perlawanan terhadap Cinaisasi, kaum Cina tak nasionalis. Menurut Eggi, mereka itu ibarat dasar sumur dan atap langit bila dibandingkan dengan saudara-saudara warga Cina Nasionalis, seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Christianto Wibisono, Soe Hok Gie, Arief Budiman, dan Kwik Kian Gie.

“Kang Eggi Sudjana bukan hanya tahu, tapi kenal betul sikap saya terhadap Cinaisasi melalui Front Pribumi sejak 2 Maret 1971,” ungkap Ki Gendeng Pamungkas (KGP) dengan nama asli Isan Massardi.

KGP sendiri dikenal sebagai paranormal kondang dan tertarik menggeluti dunia supranatural, bahkan telehipnotis dari mancanegara, diawali sejak 1968 ketika sang ayah sakit yang tak sembuh-sembuh padahal sudah berobat, diduga karena kena santet.

“Makanya, saya belajar santet buat ngobatin bapak saya. Bapak saya sembuh, akhirnya saya senang dengan dunia supranatural,” kisahnya.

Mungkin karena ia bandel, maka ibu KGP memangilnya ‘Gendeng Pamungkas’ Gendeng yang paling habis. Sedangkan kata Ki di depannya bukan berarti kakek-kakek  tapi singkatan ‘Kalau Ingat’. Jadi, kalau ingat orang gila yang paling bandel habis-habisan, itulah KGP.

“Kebetulan nama Gendeng Pamungkas itu keren. Ada huruf G tiga kali, itu saya ganti jadi angka 666 untuk plat mobil saya. Nama ini nggak ada hubungan angka setan,” jelasnya.

Malah, dari Negeri China telah diperkenalkan ke publik Indonesia produk mobil Geely. Menurut direkturnya, nama Geely bermuara dari tiga angka ‘666’ yang berarti ‘lucky numbers’.

Terkait petilasan pendirian Front Pribumi, KGP menjelaskan, gagasannya tercetus pada 1972, deklarasi perdananya pada 1978 di Yogyakarta. Hal itu bermula dari ketertarikan KGP ketika ia duduk di kelas 1 SMP membaca Serat Jayabaya.

“Di situ ada kalimat orang Cina tinggal Sejodo, orang Jawa tinggal Separo, orang pada kebingungan nanti akan ada huru-hara. Saya lihat cuma ada Sejodo Cina-Cina Nasionalis, cuma bisa dihitung jari. Paling seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Christianto Wibisono, Arief Budiman, Soe Hok Gie. Yang lainnya, di mata saya, semprul. Orang Jawa ilang Jawanya. ini saya rasakan. Soeharto orang Jawa yang Njawani. Makanya, saya menghargai Bung Karno dan Pak Harto, selebihnya amburadul,” ungkapnya.

Pada 1983, ia membentuk yayasan berbadan hukum, berkedudukan di Lampung yang menaungi aktivitas Front Pribumi. Anggota yang terdaftar resmi sampai saat ini lebih dari 14 ribu. Mereka punya kartu anggota, sedangkan jumlah simpatisannya (berusia 20 tahun) tiga kali lipat anggota resmi (berusia di atas 25 tahun) yang tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Setiap bulan KGP mengeluarkan anggaran Rp 150 juta untuk sablon kaus dan baju Front Pribumi untuk dibagikan ke anggota.

“Syarat jadi anggota Front Pribumi, mereka nggak bisa daftar daftar mendadak, tapi harus ikut partisipasi dulu, misalnya tiap bulan bantu event, ikut kegiatan social, lantas saya lihat dia setahun atau dua tahun, baru saya kasih soal untuk diisi. Saya kasih 100 soal seputar kebangsaan. Pertanyaannya tentang Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Sumpah Pemuda yang menyangkut paham kebangsaan untuk masa depan. Intinya, anak ini nasionalis atau tidak. Juga ada doktrin sebelum masuk. Ada garis komando. Patuh semua anak buah saya. Ada pelatihan di Surade, Sukabumi  di tanah milik saya. Pelatihan di laut, panjat tebing, paralayang, survival. Semi militer. Pihak TNI dan Polri tahu militansi anak buah saya,” papar KGP.

Di tengah seleksi masuk Front Pribumi itu, KGP sempat menemukan calon anggota yang cari muka, dengan menulis kalimat ungkapan rasis segala macam. Terhadap perilaku semacam itu, KGP tegas menolak calon itu untuk dijadikan anggota Front Pribumi.

“Saya nggak akan terima dia. Itu berarti dia mengambil keputusan dalam keadaan marah. Saya ini pecinta Rasul. Saya ingin mengambil keputusan pada saat tenang, tidak membenci  satu sama lain, supaya keputusan saya mencapai titik keadilan kepada yang mendengar dan melihat,” cetusnya.

Menurut KGP, sikap perlawanan terhadap Cinaisasi itu mesti proporsional, tidak ‘digebyah-uyah’ atau digeneralisir sampai menembus batas rasa Nasionalisme sejati yang dimiliki warga keturunan lain di Tanah Air. Dengan begitu, KGP tak masalah menghadapi warga keturunan Cina di Kota Bogor yang cukup banyak, dengan prinsipnya dan platform Front Pribumi yang tegas melawan China tak Nasionalis. Toh, aktivitas Front Pribumi juga merambah ke dunia sosial dan pendidikan, seperti santunan yatim piatu dan pemberian beasiswa.

“Nggak apa-apa. Saya tidak ganggu mereka, kok. Mereka juga jangan ganggu saya. Dari situ, jika ada yang bilang saya rasis itu orang tolol. Kalau ada yang bilang saya rasis terhadap Cina, yang ngomong begitu orang tolol. Saya memang rasis, karena ini fakta sejarah walaupun tidak semua Cina harus saya benci, karena karyawan saya ada yang orang Cina. Di grup motor Harley saya juga ada orang Cina, di grup motocross apalagi, banyak orang Cina. Cina Bogor mah baik. Pernah ada masalah dengan mereka, dengan kami ngobrol saja, tuntas. Waktu itu, dia minta tolong ke saya, karena ditagih preman Ambon. Saya temuin mereka, dan saya bilang, “Ini daerah gua, jangan bikin masalah.”  Akhirnya beres. Cina sama Cina karena premannya disuruh sama Cina. Saya nggak ngerasa jadi beking, tapi saya ngerasa saya orang Bogor. Waktu ribut mereka di depan rumah saya. Saya marah karena saya Ketua RT. Itu saja masalahnya.”

Bahwa kaus Front Pribumi beredar ke seluruh dunia. “Dari dulu seperti itu. Ini duit saya, aspirasi saya. Fakta orang Cina di republik ini eksklusif. Pagar rumah  mereka tinggi-tinggi, dijaga anjing-anjing atau oknum TNI dan Polri atau oknum suku tertentu. Ini fakta. Kalau mereka Indonesia, mereka nggak usah marah sama saya. Untuk apa marah? Orang suka bilang kepada saya soal Bhinneka Tunggal Ika. Saya bilang persetan. Bhinneka Tunggal Ika itu dari Sabang sampai Merauke suku-suku di Indonesia, nggak ada suku Cina,” tandasnya.

Dengan sikapnya itu, KGP menyadari banyak pihak yang bakal bereaksi. “Tapi kan hanya  mereka yang di Jakarta saja yang bikin ulah. Saya tahu orang-orangnya. Mau saya datangi tapi kata anak saya jangan. “Nama besar Ayah jangan jatuh,” kata anak saya. Man, vokalis Jasad juga bilang, “Ki jangan ladenin. KGP mah namanya dikenal seluruh dunia, Presiden Amerika wae sieun ku ente (Presiden Amerika saja takut dengan anda).”

Lebih jauh, KGP mengenang perjalanan hidupnya ketika ia masih aktif menjadi penyanyi jalanan di kawasan Blok M Jakarta. “Waktu itu, saya mau masuk label susah. Kalau jadi pecundang, menjilat ke label-label milik orang Cina baru bisa. Saya nggak bisa. Di era 1970-an saya bermusik, baca puisi. Bulan Januari 2001 sampai Februari 2007 saya bikin festival pop setiap bulan di Bogor. Waktu itu kan saya support anak saya yang punya band pop. Belum ada kayaknya dalam sejarah tiap bulan ada festival band di Bogor. Begitu dia ke metal, saya bikin metal sampai sekarang,” ungkap pria yang hobi musik bergenre blues dan country itu.

Di helaan musik metal yang event organizer (EO-nya) Front Pribumi itu banyak warga China yang nonton. Mereka malah menyalami KGP dan foto bareng. “Pernah ada tiga orang China dari Semarang yang nonton dan nemui saya. Satu anak muda yang punya showroom mobil. Mereka bilang, “Lho katanya KGP itu begini begitu.” Saya jawab, “Sekarang kamu lihat sendiri, gimana?” Mereka malah bingung, tadinya KGP itu serem, tapi ternyata biasa saja. Yang pakai kaus juga biasa saja. Mereka lalu foto-foto dan minta nomor HP saya. Saya bilang, saya bangga kalian datang dan ngeliat sendiri!!!.” (hans/rur)

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini