Keutamaan Alfatihah

M. Zulfi Azwan

Alfatihah adalah ibarat ibunya Al-Qur’an sebagai makna yang terkandung dari semua isi Al-Qur’an dari sebuah fenomena hidup dan kehidupan baik di dunia dan akhirat.

Sejenak saat Saya sholat tarawih di salah satu Musholla di lingkungan tempat kami tinggal betapa seorang Imam begitu cepatnya membaca Al-Fatihah, sampai akhirnya pelan-pelan untuk menyimak apa yang sedang dibaca Imam tersebut terutama AL-Fatihahnya.

Ternyata dengan begitu cepatnya membaca Al-Fatihah sampai huruf ujung kalimat tidak terdengar untuk disatukan dengan huruf ke kalimat selanjutnya bahkan lompatan huruf yang harus disatukan menjadi salah
dalam tata bahasa arabnya.

Biar bagaimanapun AL-Fatihah adalah salah satu rukun di dalam sholat, seyogyanya dapat dibaca dengan huruf, kalimat yang jelas ditambah pengetahuan makhroj dan tajwidnya yang benar. Banyak sebagian di
kalangan ummat Islam seolah-olah sholat tarawih harus dibaca cepat-cepat agar cepat selesai dan hilang rasa kantuk.

Padahal  sholat yang khusu’ tidak perlu buru-buru malah membuat kita nikmat jika huruf demi huruf dapat disimak dengan teliti bersama tajwid dan makhrojnya apalagi ditambah dengan lagu (ghina dalam bahasa arab) bersamaan hatinya selalu ingat dengan ALLAH. Semuanya tidak dapat
dipungkiri perlunya belajar, belajar dan belajar sebagaimana hadits Rasulullah SAW “utlubul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi” artinya tuntutlah ilmu dari buaiyan (bayi) sampai liang lahat (mati).

Sehingga Al-Fatihah dapat dibaca dengan baik dan tidak perlu buru-buru sebagai ummul-Qur’an karena isi dan kandungannya yang mencakup selurub isi Al-Qur’an secara global yang dinamakan matsani karena diulang-ulang pada tiap raka’at. (Al-FGathur-Robbani).

Di dalam hadits Rasulullah SAW: Dari Abu Hurairoh r.a., ia berkata, Aku
mendengar Rasulullah SAWA bersabda, ” Allah berfirman, ” Akui membagi sholat antara Aku dan hambaKu dua bagian. Dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang ia minta.

Apabila seorang hamba mengucapkan, ” Alhamdulillahirabbil’lamiin (segala
puji bagi ALLAH Tuhan seluruh alam), ” maka ALLAH berfirman. Hamba-Ku telah memuji-Ku! Dan apabila ia berkata ‘Arrohmaanirrohiim (Yang Maha pengasih Yang Maha Penyayang). Maka Allah ta’ala berfirman, Hamba-Ku Menyanjung-Ku.’ Apabila ia berkata, Malikiyaumiddiin (Yang menguasai hari pembalasan),’ maka Allah berfirman, Hamba-Ku memuliakan-Ku.’ Dan Dia berfirman pada kesempatan yang lain, ‘Hamba-Ku menyerahkan diri kepadaKu. ‘ Apabila ia berkata,’Iyyakana’buduwa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan),’ maka Allah ta’ala berfirman, ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang ia minta. Maka apabila ia berkata, ‘Ihdinashshirothal-mustaqiim, shirathalladzina an’amta ‘alaihim
ghairil-maghdhubi ‘alaihim waladh dhallin (Tunjukilah kami jalan yang kurus, yaitu jalan oran-orang yang Engkau beri nikmat, bukan (jalannya) orang-orang yang engkau beri nikmat, bukan (jalannya) orang-orang yang sesat, ‘ maka Allah berfirman,’ Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku akan memperoleh apa yang ia minta.” (H.r. Muslim).

Dari fenomena di atas bahwa Al-Fatihah mulai huruf, kalimat dan makna yang
sangat bermanfaat untuk kehidupan, sudah barang tentu menjadikan petunjuk yang sangat luar biasa buat seluruh ummat manusia.

Namun timbul pertanyaan adakah kita mempelajari, mengamalkannya jdan memberi pengetahuannya kepada yang lain?…jawabannya ada di hati kita masing-masing. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *