Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Kemnaker Duga Jumlah TKI Ilegal ke Malaysia Bertambah Usai Lebaran

03 Jul 2017 // 15:40 // EKONOMI, HEADLINE

tki

JAKARTA (suarakawan.com) – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menduga jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal ke Malaysia bertambah usai momen mudik Lebaran. Para pekerja ilegal tersebut dibawa TKI yang lebih dulu bekerja lewat jalur tidak resmi.

Direktur Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN) Kemnaker R Soes Hindharno mengatakan, para TKI akan mengajak koleganya ikut bekerja ke Malaysia.

Mereka pulang kampung mengajak saudaranya, keluarganya, dengan cara bertentangan dengan regulasi yang ada,” kata dia di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan di Jakarta, Senin (3/7).

Kondisi tersebut yang membuat jumlah TKI ilegal di Malaysia semakin meningkat. Dia pun mengimbau masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri, agar mematuhi ketentuan yang ditetapkan dan memenuhi dokumen yang berlaku.

?”Kalau mereka kembali ke Malaysia mohon tetap prosedural. Jangan bawa orang lewat pinggir-pinggir (ilegal), kan jumlahnya signifikan banyak. Makanya jumlah ilegal di Malaysia semakin hari semakin meningkat, pulang bawa orang,” papar dia.

Soes mengungkapkan, Malaysia menjadi tujuan yang paling diminati TKI ilegal karena berbatasan langsung dengan Indonesia, sehingga mudah terakses. Selain itu kesamaan karakter budaya, membuat masyarakat berani menempuh cara tidak resmi untuk bekerja di negara tetangga tersebut.

“Mereka menganggap negara perbatasan. Mereka meremehkan akses apapun, itu yang kita tidak setuju dengan mereka. Kan harus prosedural masuk ke negara orang?,” tutup Soes. (lp6/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini