Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Kasus Salah Tembak Polisi di Sumsel dan Bengkulu, Begini Reaksi Kapolri

28 Apr 2017 // 11:17 // HEADLINE, HUKUM, HUKUM & KRIMINALITAS

tito1

BENGKULU (suarakawan.com) – Kasus salah tembak anggota polisi di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan dan Bengkulu menjadi perhatian Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Orang nomor satu di korps baju cokelat itu memberi arahan khusus soal ini dalam acara Sertijab sejumlah Kapolda di Mabes Polri Jumat (28/4).

“Bicara masalah Bengkulu dan Sumsel ada akar masalah yang penting yaitu mengenai menguasai diskresi mulai pangkat terendah sampai tinggi. Menilai suatu peristiwa dan opsi apa yang harus diambil,” kata Tito.

Diskresi juga terkait mengambil tindakan yang tepat dan cepat untuk menjaga kepentingan publik, petugas, dan masyarakat.

“Istilah diskresi paham, praktiknya yang tak paham. Pertama adalah kemampuan menilai, kedua opsi tindakan, ketiga mengambil keputusan, opsi mana yang diambil untuk menjaga kepentingan umum,” lanjutnya.

Diskresi yang baik adalah yang mampu menilai dan mengambil keputusan dengan tepat. Jika itu dilakukan maka anggota Polri dapat apresiasi dan reward. Tapi sebaliknya jika anggota tidak bisa menilai suatu peristiwa, opsi, dan tindakannya keliru maka akan ada konsekuensi.

“Yang terjadi adalah (ibarat) kaki kanan di kuburan, kaki kiri di penjara. Kita bertindak berlebihan akan berdampak internal dan eksternalnya bisa pidana,” tambahnya.

Jika salah dalam bertindak sehingga terganggu keselamatan diri dan publik maka akan dapat berakibat masuk kuburan. Dua kasus itu harus menjadi perhatian.

“Kita jadikan trigger dan jangan berlalu begitu saja. Jangan anggap biasa, jadikan evaluasi bahwa kewenangan diskresi hingga di kalangan bawah, foot soldier. Mereka belum pahami kemampuan ini,” sambungnya. (bs/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini