KASUS MAL PRAKTEK: Pihak RSI Mengaku Ada Resiko Medis

SURABAYA (suarakawan.com) – Muryati, pasien pemasangan steril KB yang diduga menjadi korban mal praktek, hanyalah resiko medis. Sebab, menurut Direktur RSI Wonokromo dr Samsul Arifin, MARS, dalam dunia medis, yang namanya Mal Praktek itu dilakukan oleh orang yang tidak berkompeten dibidangnya. Kendati demikian pihaknya masih menunggu hasil dari Komite Medik, untuk mengambil langkah-langkah terbaik.

“Yang namanya Mal Praktek itu berarti orang yang tidak mempunyai kompeten di bidangnya,tapi seorang dokter kandungan, melakukan operasi hal itu sesuai bidangnya,” ungkap dr Samsul (09/02)

Sementara terkait biaya berobat di RS Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ),yang mencapai Rp 500 juta lebih, dr Samsul menambahkan, pihaknya akan bertanggung jawab dan akan membayar biaya pengobatan di RKZ Surabaya.

Namun untuk jumlah berapa yang akan di ganti dr Samsul tidak merinci dengan pasti, karena besok (10/02) akan dilakukan perundingan terkait permasalahan ganti rugi antara RSI, RKZ, dan pihak keluarga.

“Secara prinsip kita akan membantu Keluarga yang kesusahan, namun untuk menentukan itu semua kita besok (10/02) akan menggelar pertemuan,” terangnya.

Sekedar diketahui, Muryati (36) Warga Desa Pandean, Kecamatan Waru Sidoarjo terpaksa tidak dapat memberikan ASI kepada anaknya, pasca operasi steril KB yang dilakukannya di RSI Wonokromo Surabaya 22 Desember 2011 lalu, perut Muryati membesar, sekujur badannya membiru dan terus muntah-muntah.

Karena merasa dihiraukan oleh pihak RSI, keluarga Muryati akhirnya membawa paksa Muryati ke RKZ, dan hingga kini masih berada di ICU, dengan biaya total perawatan dan pengobatan saat ini menelan Rp. 500 juta lebih.

Rumah Sakit Islam (RSI) Wonokromo Surabaya,menunggu hasil dari komite medik untuk menentukan apakah dokter yang menangani Muryati bersalah atau tidak. (bs/jto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *