Kasih Sayang & Pengorbanan di jalan Allah

Oleh: M. Zulfi Azwan

Kata Itsar adalah mendahulukan kepentingan orang lain walaupun diri sangat memerlukannya. Di zaman Rasulullah SAW inilah yang menjadi kebiasaan dan adat istiadat para sahabat radiallahuanhu (r.a). Namun di kemudian hari, kebiasaan ini menjadi lebih istimewa dan telah menjadi suatu bagian dalam kehidupan hal inilah yang dimaksud dengan itsar para sahabat r.a., sehingga Allah SWT memuji perbuatan mereka di dalam alQur’an.

“Wayuktsiruuna ‘alaa anfusihim walaukaana bihim khoshooshoh” artinya: “dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, walaupun mereka dalam kesusahan.” (Qs. al Hasyr (59): 9).

Alkisah ada seorang telah datang menemui Rasulullah SAW, dan menceritakan kepada beliau tentang kelaparan dan kesusahan yang dialaminya. Kebetulan Rasulullah SAW tidak memiliki makanan sedikitpun untuk diberikan kepada orang tersebut. Walhasil Rasulullah SAW, menyuruh seseorang untuk menanyakan apakah di rumah beliau ada makanan atau tidak. Setelah ditanyakan, ternyata di rumah beliau tidak ada makanan sedikitpun.

Kemudian beliau bertanya kepada para sahabatnya, “adakah di antara kalian yang sanggup melayani orang ini sebagai tamunya pada malam ini?” Seketika itu ada seorang kaum Anshor menyahut, “wahai Rasulullah, akulah yang akan menjamunya.”

Selanjutnya tamu tersebut dibawa ke rumahnya dan memberitahu isterinya, “Lihatlah! sahabat ini adalah tamu Rasulullah SAW, kita harus melayaninya dengan sebaik-baiknya, keluarkan semua makanan & jangan sampai ada yang tersisa di dalam rumah kita ujarnya kepada isterinya. Langsung isterinya menjawab, “Demi ALLAH! Sebenarnya tidak cukup persediaan makanan di rumah kita, kecuali sedikit yang hanya cukup untuk memberi makanan kepada anak kita.”

Apa yang terjadi, orang Anshar tersebut berkata, “Kalau begitu engkau tidurkan mereka (anak-anaknya red..) dahulu tanpa memberi makan. Tetapi saat aku duduk sambil mengobrol dengan tamu itu, segera siapkan sajian makanan yang cuma sedikit ini, sehingga ketika mulai hendak makan, maka engkau padamkan lampu sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali.”

Saat itu juga isterinya langsung melaksanakan seperti apa yang direncanakan suaminya. Maka seluruh keluarga itu terpaksa menahan lapar dan pada malam itu semata-mata agar tamunya dapat makan dengan kenyang.

Dari cerita di atas betapa mulia jika kita dapat berbagi dengan sesama serta kasih sayang apalagi dalam suasana ramadhan yang penuh rahmat, barokah dan maghfiroh. Bagaimana seorang sahabat begitu patuhnya kepada pemimpin yang  jujur, amanah dan selalu membahagiakan rakyatnya. Disamping itu hanya seorang tamu yang lapar, sebuah keluarga yang sakinah harus dapat menanggung beban bersama anaknya. Adakah insan manusia di zaman modern dan teknologi ini? semoga semua kita selalu sadar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *