Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Kabupaten Bangkalan Targetkan Bebas Pasung di 2018

10 Nov 2017 // 13:11 // DAERAH, HEADLINE, PERISTIWA

pasung

BANGKALAN (suarakawan.com) – Dinas Sosial Pemkab Bangkalan, Jawa Timur terus melakukan pendekatan persuasif kepada keluarga masyarakat yang mengalami gangguan jiwa, guna membebaskan wilayah itu dari praktik pemasungan pada 2018, sebagaimana telah menjadi target pemerintah pusat.

“Sejak awal 2017 kami terus melakukan pendekatan persuasif, agar tahun 2018 di Kabupaten Bangkalan ini bisa bebas dari praktik pemasungan,” kata Kepala Bidang Rehabilitas Sosial Dinsos Bangkalan Ahmad Ready di Bangkalan, Jumat.

Ia menjelaskan, berdasarkan data di Dinsos Bangkalan, jumlah warga yang hidup dalam kondisi terpasung karena mengalami gangguan jiwa terus meningkat.

Pada 2016, warga Bangkalan yang hidup dalam kondisi terpasung sebanyak 28 orang dengan bentuk pemasungan bervariatif. Mulai dari pasung rantai, pasung kayu, dan pemasungan di dalam kamar.

Sedangkan pada 2017 ini, jumlah penderita gangguan jiwa yang dipasung 32 orang atau meningkat empat orang dibanding 2016.

“Sebanyak 15 orang di antaranya sedang menjalani proses rehabilitasi di rumah sakit jiwa (RSJ),” ujar Ready.

Ia menjelaskan, dalam penanganan kasus pemasungan itu, pihaknya tidak sertamerta mendata dan langsung membawa yang bersangkutan, melainkan melalui kesepakatan dengan pihak keluarga yang bersangkutan.

“Kalau pihak keluarga menyetujui keluarganya yang mengalami gangguan jiwa tersebut dibawa petugas untuk diobati ke rumah sakit jiwa, maka kami bawa. Jika tidak, maka kami berupaya memberikan pemahaman kepada mereka,” ujarnya.

Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Bangkalan Ahmad Ready lebih lanjut menjelaskan, persoalan pasung masih menjadi momok karena dianggap aib keluarga.

“Banyak penderita gangguan jiwa yang menolak pasien pasung dibawa untuk menjalani proses penyembuhan, karena dianggap aib,” katanya.

Sebagian diantara yang menolak itu, karena beranggapan apabila keluarganya yang mengalami gangguan jiwa itu diobati melalui pihak ketiga, dianggap aib, karena keluarga dekatnya tidak bisa mengatasi persoalan tersebut.

Kepercayaan seperti itu timbul, karena adanya anggapan, bahwa penyakit gangguan jiwa itu, karena guna-guna dari orang lain.

Sementara itu, dari 15 orang yang sudah ditangani, hingga kini sudah ada lima orang yang sembuh total.

“Kami juga berharap, agar yang lain juga mau menjalani proses penyembuhan,” katanya, menambahkan.

Menurut Ahmad Ready, penanganan penyembuhan pada warga yang mengalami gangguan jiwa itu, di dua rumah sakit jiwa yakni RSJ Menur Surabaya dan RSJ Lawang, Malang.

Dia mengakui, kasus pasung di Kabupaten Bangkalan hingga kini memang tergolong banyak, namun, dengan pendekatan yang dilakukan secara persuasif, pihaknya yakin target bebas pasung 2018 yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, bisa tercapai.(ant/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini