Jatim Dinilai Layak Bentuk Perwakilan Lembaga Sensor Film

20170518_124612

SURABAYA (suarakawan.com) – Provinsi Jawa Timur (Jatim) dinilai layak membentuk perwakilan Lembaga Sensor Film (LSF). Pasalnya, Jatim merupakan provinsi yang cukup produktif dalam memproduksi film.

“Ada kota lain yang banyak membuat film dan iklan film, seperti Medan (Sumatera Utara), Makassar (Sulawesi Selatan) dan DI Aceh. Tapi, produksi film Jatim lebih kuat,” kata juru bicara LSF Nasional, Rommy Fibri Hardianto kepada wartawan usai Sosialisasi Kebijakan dan Keberadaan LSF di Ibu Kota Provinsi Jawa Timur di Gedung Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jatim, Kamis (18/5).

Diakui, selama LSF Nasional menyensor film di Jakarta, ada peningkatan cukup signifikan. Tahun 2014, sekitar 42 ribu judul film. Lalu, tahun 2015 sebanyak sebanyak 45 ribu. Dan, di tahun 2016 sebanyak 49 ribu film yang disensor.

“Jadi, trendnya naik. Tapi, trend film yang disensorkan dari Jatim dengan konten lokal Jatim juga cukup tinggi berkisar 5-7 persen, dan itu tertinggi dari daerah-daerah lain,” ungkapnya.

Artinya, secara potensi Jatim sangat besar. Selama ini, barangkali yang sudah disensorkan jumlahnya, mungkin malah ada yang belum. Sehingga, harus disambangi. “Oleh karena itu, ada yang ribet apakah harus mengirimkan ke Jakarta, maka LSF Nasional menetapkan LSF perwakilan Jatim ini untuk yang pertama,” jelasnya.

Selain produksinya besar, menurutnya, Jatim ditunjuk menjadi perwakilan LSF pertama, juga untuk melakukan efisiensi dan efektifitas. Karena produser dan pelaku usaha perfilman di daerah, cukup mengurus di Surabaya dan tidak perlu datang ke Jakarta. “Jadi lebih efisien dan efektif. Dua hal besar itulah kenapa Jatim ditetapkan,” tegasnya.

Kelebihan Jatim, lanjutnya, beragam nuansanya mulai dari ujung hingga tengah. Mulai Banyuwangi, Madura hingga Ponorogo. Tak hanya film, tapi juga musik dangdut.

Dia memberi contoh kesenian Reog Ponorogo. Kalau hanya melalui pendekatan kriteria dan aspek penyensoran, maka adegan orang makan Semprong, bisa dibahas lebih panjang.

Namun, buat komunitas masyarakat dan warga yang berada di area Jatim dan sekitarnya sudah terbiasa nonton adegan itu. Sebaliknya, yang tak biasa, maka adegan makan semprong bukan pagelaran reog biasa dan akan protes.

“Budaya lokal harus didukung. Orang makan semprong atau kaca di pagelaran reog itu merupakan kearifan lokal, jadi nggak bisa disensor. Sepanjang itu merupakan budaya setempat, ya nggak ada masalah. Seperti kata salam khas ‘Jancok’ bagi arek Suroboyo itu kan sudah biasa,” jelasnya.

Karena itu, Rommy menambahkan perlu membentuk LSF perwakilan. Bukan hanya Jatim, tapi juga daerah yang tingkat produksinya besar dan efektifitas serta efisiensinya harus ditekan. “LSF di daerah itulah yang akan melakukan penyensoran,” tandasnya. (Bng/rur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *