Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Ini Sebab Indonesia Jadi Ladang Penipu Siber China

03 Aug 2017 // 09:41 // HEADLINE, HUKUM, HUKUM & KRIMINALITAS

sindikat-penipuan-wn-china-taiwan-raup-rp-20-triliun-per-tahun

JAKARTA (suarakawan.com) – Kejahatan siber di Indonesia terus terjadi. Banyak alasan Indonesia masih menjadi sasaran empuk bagi para sindikat kejahatan siber lintas negara.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan, luasnya wilayah Indonesia menjadi salah satu alasan memudahkan para pelaku kejahatan internet ini melancarkam aksinya.

Hal itu terkait dengan penangkapan ratusan orang asal WN China dan Taiwan yang diduga melakukan kejahatan siber di Indonesia. Mereka ditangkap Polri bersama Kepolisian China di Jakarta, Surabaya, dan Bali.

“Garis pantai Indonesia yang luas dan internet yang sudah menjangkau hampir seluruh wilayah Indonesia menyebabkan para pelaku ini memanfaatkan wilayah Indonesia untuk melakukan kejahatan siber ini,” kata Argo, belum lama ini.

Selain itu, para sindikat kejahatan siber ini memilih Indonesia karena peraturan yang mengatur terkait internet service provider (isp) cenderung lebih lenggang.

Selain Indonesia, para pelaku juga diduga melakukan kejahatan di negara Asia Tenggara lain. Sebut saja Vietnam, Filipina, dan Thailand.

“Karena negaranya rata-rata negara kepulauan. Jadi mereka menganggap aparat tidak bisa dengan mudah menemukan mereka,” kata Argo.

Argo juga menjelaskan mengenai modus kejahatan yang dilakukan oleh para pelaku yang merupakan warga negara China dan Taiwan ini. Para pelaku menggunakan data-data nasabah bank di China dan Taiwan untuk kemudian menghubungi para korban dengan menyamar menjadi penegak hukum.

Ada yang berperan sebagai polisi, jaksa, hingga petugas bank. Peran-peran itu guna meyakinkan calon korbannya.

Mereka kemudian menakut-nakuti korbannya terjerat kasus pidana di negara Taiwan atau Cina. Untuk selanjutnya para pelaku merayu korban mengirimkan uang ke rekening milik pelaku dengan iming-iming kasusnya diselesaikan.

“Sasaran korban sendiri adalah WN Cina di sana (Taiwan dan China) mereka mengiming-iming bisa menutup kasus asal dikirim sejumlah uang,” kata dia.

Hasil kejahatan selama ini, para pelaku berhasil meraup keuntungan sampai Rp 3 triliun.

Adapun Polri akan terus bekerjasama dengan Kepolisian China untuk terus melakukan investigasi terkait sindikat yang mengorganisir semua kejahatan dengan modus penipuan lewat jaringan siber ini.

“Di China kasus ini merupakan kejahatan serius, sudah berjalan cukup lama, makanya kita juga melakukan joint investigation dengan aparat hukum Cina,” kata Argo. (cnn/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini