Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Indonesia Butuh 57 Juta Tenaga Kerja Terampil

13 Sep 2017 // 22:48 // EKONOMI, HEADLINE

menaker

YOGYAKARTA (suarakawan.com) – Menteri Tenaga Kerja Muhammad Hanif Dhakiri mengatakan Indonesia masih membutuhkan sebanyak 57 juta tenaga kerja terampil untuk mendukung Indonesia menjadi pusat perekonomian ketujuh di dunia pada 2030.

“Tahun 2030 Indonesia diprediksi akan menjadi perekonomian terbesar ketujuh di dunia, tetapi dengan syarat harus memiliki tenaga kerja terampil sebanyak 113 juta. Saat ini kita baru punya sekitar 56 juta,” kata Menteri Hanif saat memberikan kuliah umum di Sekolah Pascasarjana UGM, Rabu (13/9).

Hanif mengakui persoalan terkait kualitas tenaga kerja, menurut Hanif, memang patut menjadi sorotan. Ia menggaris bawahi kondisi tenaga kerja Indonesia saat ini yang masih didominasi lulusan SD dan SMP.

“Kalau mau kedaulatan tenaga kerja harus pastikan tenaga kerja kita di atas standar sehingga kompetitif. Tapi saat ini profil tenaga kerja kita 60 persen lulusan SD dan SMP, mau cari kerja juga susah karena tidak punya keterampilan,” kata dia.

Oleh sebab itu, menurut dia, pengembangan tenaga kerja perlu menjadi perhatian penting dalam upaya mengalihkan ketergantungan sumber daya alam kepada pemanfaatan sumber daya manusia.

“Sekarang saatnya kita bertransformasi dari mengandalkan SDA menjadi SDM. Dari sisi lingkungan, sumber daya alam sudah banyak rusak dan tidak berkelanjutan, karena itu kita harus sudah bergeser ke SDM,” kata dia.

Hanif mengatakan setidaknya ada dua persoalan ketenagakerjaan yang dihadapi Indonesia saat ini. Persoalan pertama adalah apa yang disebut sebagai mismatch dan underqualified worker, yaitu mereka yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki atau pekerja yang memiliki kualitas kompetensi di bawah standar yang dituntut dari pekerjaannya.

“Inilah mengapa lulusan perguruan tinggi pun banyak jadi pengangguran, karena maunya kerja bagus, gaji bagus, tapi ternyata kompetensi mereka kurang,” kata Hanif.

Menurut dia, di tengah kondisi saat ini, upaya yang dapat dilakukan untuk segera meningkatkan kualitas tenaga kerja adalah melalui pendidikan vokasi baik berupa sekolah lanjutan atau berbagai bentuk pelatihan.

“Saya percaya Indonesia memiliki potensi yang besar kalau pemerintah, industri, dan institusi pendidikan bisa bekerja sama,” kata dia.(bs/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini