Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

ILO: 2,3 Juta Orang Meninggal Setiap Tahun karena Bekerja

31 Jul 2017 // 05:41 // HEADLINE, KESEHATAN

Pekerja koperasi Kareb memasukkan tembakau yang sudah diproses untuk dijual ke perusahaan rokok

JAKARTA (suarakawan.com) – International Labor Organization (ILO) menunjukkan bahwa setiap tahunnya terdapat 2,3 juta orang di dunia yang meninggal akibat bekerja. Kematian tersebut baik yang disebabkan oleh penyakit akibat bekerja maupun kecelakaan kerja. Namun kematian yang disebabkan oleh penyakit akibat kerja masih mendominasi.

Sebagian besar penduduk Indonesia adalah masyarakat pekerja. Untuk itu diperlukan peningkatan kesehatan dan keselamatan pada pekerja agar produktivitas pekerja dapat ditingkatkan. ILO menyatakan bahwa Pneumoconiosis merupakan penyakit akibat kerja yang paling banyak diderita oleh pekerja. Berdasarkan data ILO tahun 2013, 30 hingga 50 persen pekerja di negara berkembang menderita Pneumoconiosis.

Pneumoconiosis merupakan penyakit yang banyak menimpa pekerja pertambangan. Pneumoconiosis adalah penyakit paru yang disebabkan oleh terlalu seringnya menghirup debu batu bara. Sekitar 9 persen penambang batu bara di Indonesia dicurigai menderita Pneumoconiosis. Namun hingga kini tidak diketahui berapa jumlah pastinya. Peralatan diagnosis yang belum memadai dan kesadaran masyarakat tentang bahaya Pneumoconiosis yang masih rendah, merupakan dua penyebab utamanya.

Selain kesadaran masyarakat yang rendah, kemampuan dokter di Indonesia untuk mendeteksi penyakit ini juga belum memadai. Padahal dengan kemampuan dokter yang baik, maka penyakit Pneumoconiosis ini dapat dideteksi lebih dini dan segera mendapatkan perawatan yang tepat. Hingga kini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus berusaha untuk memberikan pelatihan kepada para dokter mengenai penyakit yang satu ini. (bs/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini