Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

IASS: NU Tak Pernah Berikan Dukungan ke Bacagub Manapun

25 Aug 2017 // 19:07 // HEADLINE, PILKADA

NU

SURABAYA (suarakawan.com) – Keinginan Bapilu DPW PKB Jatim agar NU tidak terpecah belah dan bersatu mendukung salah satu Bakal calon gubernur (Bacagub) Jatim dinilai Ikatan alumni Santri Sidogiri (IASS) Pasuruan sebagai sikap kekhawatiran yang ‘absud’ (tidak beralasan).

PKB terkesan khawatir Khofifah Indar Parawansa maju di Pilgub Jatim karena akan berhadapan dengan Gus Ipul yang sama-sama kader NU. PKB sendiri sudah bulat mengusung Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai Bacagub Jatim.

Ketua Dewan Pakar IASS Pasuruan, Anwar Sadad mengatakan, PKB sangat tidak realitas mengikuti perkembangan Pilkada. Mengingat saat ini sudah banyak fakta yang menginginkan kandidat lain dari NU selain Gus Ipul.

“Itu fakta. Banyak sekali fakta kiai secara terbuka memberi dukungan selain Gus Ipul,” ungkap Anwar Sadad, di Surabaya, Jum’at (25/8).

Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim tersebut mencontohkan salah satu kiai yang memberi dukungan selain Gus Ipul adalah pengasuh Ponpes Tebu Ireng Jombang, KH Solahudin Wahid (Gus Solah), pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim, Imam Buchori Kholil cicit (alm) KH Syaikhona Kholil.

Anggota Komisi C DPRD Jatim itu menilai Thoriq tidak melihat sejarah NU. Mengingat Nadlatul Ulama tidak pernah terlibat politik praktis, yakni memberikan dukungan kepada bakal calon, atau partai.

“NU itu memperjuangkan politik kebangsaan. Yang diperjuangkan NU itu politik nilai seperti nilai yang dibawa kandidat atau partai untuk masyarakat,” tegasnya.

Selama ini NU tidak pernah memberi dukungan ke bakal calon, dukungan diberikan atas nama personal. Bukan dukungan atas nama kelembagaan.

Menurut mantan calon bupati Pasuruan itu saat ini yang terjadi adalah politik elektoral, sehingga tidak bisa membatasi atau melarang seseorang untuk maju dalam Pilkada.Larangan seseorang maju di Pilkada seolah-olah tidak ada kader NU yang baik lagi.

“Lebih baik memberi banyak pilihan. Jangan dibatasi. Kalau melarang orang untuk maju itu tidak sesuai demokrasi elektoral,” tegasnya. (aca/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini