‘Hujan’ Ulat Bulu di Probolinggo Diduga Akibat Perubahan Iklim

SURABAYA – Serangan ulat bulu seperti yang sedang terjadi di Probolinggo bisa jadi merupakan dampak dari climate change atau perubahan iklim. Seperti kita ketahui bahwa ulat merupakan satu dari empat siklus hidup kupu-kupu.

Perubahan iklim diduga mengganggu siklus metamorfosis ulat tersebut. Hal itu dikuatkan dengan fakta bahwa cuaca di Kabupaten Probolinggo akhir-akhir ini yang hampir setiap sore diguyur hujan deras.

Tahun 2009 lalu negara Liberia pernah mengalami kejadian yang sama. Bahkan waktu itu ada 45 kota yang terkena serangan ulat bulu sehingga pemerintah setempat mengumumkan keadaan emergency. Untuk meredam persebaran ulat bulu, pemerintah setempat melakukan upaya pembasmian dengan menyemprotkan pestisida.

Namun penyemprotan pestisida terhadap ulat bulu yang menyerang berbagai tanaman di Liberia waktu itu mendapatkan perhatian dari Food and Agriculture Organization (FAO), lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi masalah makanan dan agrikultur. Pestisida tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan kontaminasi lingkungan jangka panjang.

Untuk diketahui, serangan ulat bulu yang melanda Kabupaten Probolinggo Jawa Timur Sabtu (2/4) telah meluas ke delapan kecamatan. Upaya pemerintah setempat membasmi ulat bulu dengan menyemprotkan pestisida ke hampir seluruh pohon mangga di kabupaten tersebut dinilai sia-sia. Mengingat guyuran hujan yang terjadi setiap sore, mengurangi efektivitas pestisida tersebut.

Selain itu ulat-ulat tersebut bisa menghindar dan bersembunyi ke tempat yang tidak terjangkau oleh pestisida sehingga ulat tersebut akan tetap hidup. Namun ulat tersebut tidak bisa segera menjadi kepompong akibat cuaca tidak mendukung. Pada saat bersamaan ribuan ulat-ulat baru akan terus menetas. Bisa ditebak akibatnya, populasi ulat akan terus bertambah jika tidak segera ditangani dengan tepat. (buo/ara)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "‘Hujan’ Ulat Bulu di Probolinggo Diduga Akibat Perubahan Iklim"