Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Hasan Aminudin: Mustahil Pilkada Jatim Muncul Calon Tunggal

08 Jun 2017 // 04:11 // HEADLINE, PILKADA

20170607_190635

SURABAYA (suarakawan.com) – Wacana calon tunggal dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jatim 2018, masih menimbulkan pro kontra di kalangan tokoh politik. Ada yang setuju dan ada pula yang menolak dengan alasan kurang demokratis.

Kali ini, Hasan Aminudin yang pesimis calon tunggal akan terjadi di Pilkada Jatim 2018. “Mustahil Jawa Timur (Jatim) yang beragam ini di Pilkada nanti akan cuma muncul calon tunggal,” ucapnya, seperti diberitakan Kamis (8/6).

Ada beberapa alasan yang membuat Anggota Fraksi Partai Nasional Demokrat (NasDem) DPR RI itu pesimis terjadi calon tunggal di Pilkada Jatim tahun depan. Alasan pertama, yaitu SDM Jatim tidak sama dengan provinsi lain.

Kedua, seluruh partai politik (parpol) di Jatim ingin meraih kekuasaan dan berkoalisi dengan parpol yang berpotensi menang. “Yang ketiga, basis nahdliyin. Di Jatim, nahdliyin punya kekuatan 65 persen, nasionalis 30 persen dan 5 persen aliran kepercayaan lain,” ungkapnya.

NU, diakui memang sebuah kekuatan. Ini karena NU lahir dari gerakan politik nahdlatul waton. 60 persen warga nahdliyin jadi kekuatan besar kalau jadi satu.

“Kalau hari ini ada pemaksaan kiai sepuh, untuk mengarahkan pada satu kekuatan parpol atau satu cagub, maka tradisi samikna waatokna dalam berpolitik akan terdegradasi,” tandasnya. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini