Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Harga Tomat dan Daun Bawang Meroket

07 Dec 2017 // 22:01 // EKONOMI, HEADLINE

images (11)

BANDUNG (suarakawan.com) – Sudah hampir dua pekan harga sayuran jenis tomat dan daun bawang di sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung mengalami kenaikan yang signifikan. Kenaikan tersebut disebabkan faktor musim penghujan yang mulai melanda sejumlah wilayah produsen sayuran.

Harga tomat mengalami penigkatan yang cukup tinggi. Biasanya harga tomat di kisaran Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram namun sejak dua pekan lalu meroket hingga mencapai Rp 12 ribu per kilogramnya. “Barangnya juga susah,” kata Ny Fatma (45 tahun) pedagang sayuran di Pasar Cicaheum, Kota Bandung, Kamis (7/12).

Sedangkan harga bawang daun, Fatma mengatakan, melonjak dari Rp 12 ribu per kilo menjadi Rp 18 ribu per kologramnya. Barang daun, imbuh dia, mulai melonjak harganya sejak sepekan lalu.

Ia mengatakan, baik tomat maupun bawang jumlah pengiriman dari para petani terus berkurang. “Tomat dan bawang daun barangnya kurang bagus. Tomat kecil-kecil dan masih hijau sedangkan bawang daun juga hampir sama,” kata dia.

Fatma mengakui sejak tomat dan bawang daun harganya melonjak banyak pembeli yang protes. Karena mahal, imbuh dia, konsumen juga mengurangi jumlah pembeliannya.

Kenaikan tomat dan bawang terjadi karena pasokan dari petani menurun. Dedangkan menurut petani karena musim hujan. Biasanya konsumen beli dua kilo sejak kenaikan dikurangi jadi satu kilo. Alasannya harganya mahal dan barangnya jelek,” imbuh dia.(rol/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini