Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Gus Ipul Siapkan Program Tangani Kasus Limbah B3 di Lakardowo

12 May 2017 // 18:23 // DAERAH, HEADLINE, PERISTIWA

IMG-20170512-WA0004

MOJOKERTO (suarakawan.com) – Kedatangan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf di dusun Kedungpalang, Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jumat (12/5) mampu melegakan hati masyarakat setempat yang sudah dua tahun lamanya hidup menderita, karena lingkungannya diduga tercemar limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Tak hanya sekitar 342 warga mengalami sakit gata-gatal, akibat tercemar limbah B3, membuat warga tiga dusun itu kekurangan air bersih. Warga terpaksa tidak mengkonsumsi air sumur. Untuk masak dan minum sehari-hari, warga memilih membeli air galon, atau mendatangkan air dari Kecamatan Pacet.

“Saya berharap seluruh warga disini tenang dan bersabar. Pemerintah provinsi (Pemprov) Jatim akan membantu keperluan air bersih untuk minum dan memasak. Untuk kesehatan, saya akan menginstruksikan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur untuk turun memeriksa kesehatan warga Lakardowo,” kata Saifullah Yusuf saat berdialog dengan warga.

Untuk menangani kasus limbah B3 di Desa Lakardowo, Gus Ipul-sapaan akrabnya-ini membuat program jangka pendek dan jangka panjang. Program itu penting dilakukan karena adanya laporan dampak air sumur yang digunakan untuk keperluan keseharian warga diduga telah tercemar oleh limbah B3 dari PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA).

“Prioritas program jangka pendeknya ialah kebutuhan air bersih untuk warga harus dibantu oleh pemerintah hingga masalahnya bisa terselesaikan,” ujarnya.

Program jangka pendek kedua, lanjutnya, adalah pengecekan masal kesehatan warga yang banyak mengalami dermatitis atau iritasi kulit, khususnya anak-anak. Pengecekan kesehatan tersebut nantinya akan dilakukan langsung oleh tim Dinas Kesehatan Prov. Jatim.

“Berdasarkan informasi dalam satu bulan satu dusun mengeluarkan biaya sekitar Rp 4,5 juta untuk kebutuhan air bersih. Air ini digunakan untuk masak dan minum, sedangkan untuk mandi warga masih menggunakan air sumur yang ada,” jelasnya.

Sedangkan program jangka panjang, Gus Ipul menjelaskan, akan segera dilakukan penelitian ulang yang melibatkan tim independen, misalnya dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Penelitian dari tim independen merupakan langkah tepat karena bisa menjadi pembanding hasil penelitian sebelumnya.

“Dengan begitu hasil yang diperoleh lebih obyektif. Saya nanti yang akan membantu biaya penelitiannya, karenanya tolong segera dibuat kajian dan proposalnya,” ujarnya disambut tepuk tangan warga.

Permasalahan limbah, diakui termasuk salah satu masalah utama di Jatim. Setiap tahun, di Jatim ada 170 juta ton limbah B3 yang harus dikelola secara khusus. Namun, berdasarkan data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim, saat ini baru 39 persen limbah B3 yang dibuang ke Cileungsi, Bogor. Sisanya, 61 persen masih diteliti lewat manifestnya.

“Jangan sampai limbah B3 dibuang ke pabrik yang tidak berizin. Seperti beberapa waktu lalu telah dilakukan penggrebekan pada salah satu pabrik pengolahan limbah B3 yang bermasalah di Surabaya. Kalau untuk PT PRIA ini, salah satu pabrik pengolahan limbah B3 di Jatim yang sebenarnya keberadaannya masih dibutuhkan,” ungkapnya.

Gus Ipul juga memberikan apresiasi atas aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat Desa Lakardowo, bahkan masalah tersebut telah dibicarakan di tingkat pemerintah pusat. Ia berpesan agar warga menghormati dan menghargai proses yang masih berlangsung.

Apalagi, yang ditugaskan menangani masalah tersebut adalah para ahli yang mengerti tentang kaidah ilmiah. “Dalam masalah ini, kita tidak mencari siapa yang salah tapi mengungkap fakta sebenarnya. Oleh sebab itu mari kita tunggu dan hargai prosedur yang sedang berlangsung,” paparnya.

Usai dialog dengan warga desa Lakardowo, Gus Ipul didampingi Kepala BLH Jatim Bambang Sadono, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke PT PRIA, yang lokasinya tidak jauh dari pemukiman warga. Saat bertemu dengan jajaran direksi PT. PRIA, Gus Ipul menjelaskan, pemerintah khususnya Pemprov akan mengikuti peraturan yang ada dalam menyikapi dugaan pencemaran limbah B3.

Disamping itu, Ia berharap hubungan antara perusahaan dengan warga sekitar bisa harmonis. Jika hubungan antara perusahaan dan masyarakat baik maka pemerintah akan tenang. “Pemprov siap membantu menangani persoalan ini,” tandasnya.

Pihaknya akan melakukan pendampingan dan klarifikasi kepada masyarakat bila terjadi kesalahpahaman. Namun jika data-data hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat benar, maka pemerintah juga yang wajib membela.

“Posisi pemerintah disini sudah jelas sebagai pengayom dan membantu menyelesaikan setiap masalah yang terjadi di masyarakat,” kata mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal ini. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini