Guru Tewas Dianiaya Siswa Dinilai Sebagai Potret Buram Pendidikan di Jatim

SURABAYA (suarakawan.com) – Komisi E DPRD Jatim berharap agar kasus kekerasan terhadap guru ini menjadi yang terakhir. Jangan sampai ada kekerasan terhadap guru lagi. Hal ini disampaikan oleh Anggota komisi E DPRD Jatim, M. Eksan di DPRD Jatim, Jumat (2/2).

Menurut Eksan, peristiwa di Sampang itu adalah potret buram pendidikan di Jatim. Ia menilai, betapa moral anak didik dalam relasi sosial antara guru dan murid, pada posisi titik nadhir.

Sebab, semua ajaran moral di dunia ini, baik yang berasal dari ajaran agama maupun budaya masyarakat, menggariskan anak didik menghormati guru. Syeikh Al-Zarnuji, penulis Kitab Ta’limul Muta’allim, wa min ta’dzhimil ‘ilmi ta’dhimul ustadz (sebagian dari (etika) menghormati ilmu pengetahuan, adalah menghormati guru).

“Alih-alih memukul guru, membantah perintah guru saja tak boleh. Apalagi, guru sampai masuk ke rumah sakit atau meninggal dunia, akibat menjadi korban kekerasan anak didik. Ini sungguh potret buram pendidikan yang harus dibenahi bersama,” tutur Eksan.

Ia menjelaskan, guru adalah mata rantai ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi yang lain. Sebagai mata rantai, ia tentu bukan hanya penghubung intelektual, tapi moral dan spiritual sekaligus. Posisi guru adalah pewaris para nabi yang membawa ajaran Islam, melakukan amar makruf nahi mungkar.

“Guru itu lentera hidup bagi manusia. Cerah atau gelap hidup seorang manusia bergantung pada konsistensi murid dalam meneladani guru. Karena itu, negara harus memberikan jaminan keselamatan dan kesejahteraan guru. Jangan sampai kasus semisal terjadi lagi. Ini justru harus menjadi pelajaran berharga agar Jawa Timur ramah guru,” ujar Eksan yang juga alumni HMI Jember ini.

Oleh karena itu, ia berharap pembinaan anak juga harus juga diperhatikan. Sementara, sekolah dan orang tua, dan lingkungan sosial sekolah yang lain, sama-sama memiliki tugas dan tanggungjawab untuk memperbaiki relasi guru dan siswa, agar lebih ramah, santun, disiplin, penuh tanggungjawab, taat hukum, dan menjunjung tinggi kerjasama dan kebersamaan dalam kehidupan sekolah.

“Sebagai sesama pendidik, saya ikut berduka cita dengan tewasnya saudara Budi. Apalagi Almarhum juga sesama kader HMI. Tapi tidak boleh ada motif balas dendam dalam penegakkan hukum terhadap pelaku. Mengingat yang bersangkutan masih tergolong anak-anak. Semoga dengan adanya pembinaan, selepas menjalani hukuman pelaku bisa menjadi insan yang lebih baik,” pungkas. (aca/rur)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Guru Tewas Dianiaya Siswa Dinilai Sebagai Potret Buram Pendidikan di Jatim"