Gubernur Jatim Akui Daging Impor Masuk Pasar Jatim

SURABAYA – Gubernur Jawa Timur, Soekarwo mengakui penyelundupan daging impor masih beredar di Jawa Timur, meski pemerintah propinsi Jawa Timur melarang masuknya daging impor.

“Masuknya melalui jalan darat seperti jalur Cepu-Bojonegoro, Bulu-Tuban, Mantingan-Ngawi, dan Wonogiri-Pacitan. Kita bukan  kecolongan, mereka yang nyolong-nyolong,” terang Soekarwo di Surabaya, Selasa (15/3).

Menurutnya, beredarnya daging impor tidak mempengaruhi harga daging secara langsung, namun harga sapi potong hidup dikarenakan transaksi di pasar tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Karena produk tersebut tidak dipotong RPH (rumah pemotongan hewan) kita. Akibatnya terjadi penurunan rata-rata dua puluh lima persen sapi potong kita,” kata Soekarwo.

Ia merinci saat ini harga sapi potong biasa turun dari 14 juta rupiah menjadi 11 juta rupiah, sapi limosin generasi IV dari 20 juta rupiah menjadi 16 juta rupiah.

“Harga per kilogram sapi hidup untuk Limosin turun dari 23,5 juta rupiah menjadi 21 juta rupiah dan Benggala dari 22 juta rupiah menjadi 20 juta rupiah,” ujarnya.

Ia memaparkan guna mencegah hal ini terus berlanjut, pihak Pemprov Jatim telah meminta bantuan Polda Jatim untuk memperketat pengawasan di perbatasan.

”Mereka akan menggunakan berbagai modus untuk mengelabui petugas, seperti dijadikan satu dengan produk pangan lain di cool storage. Bulan ini saya belum dapat laporannya, tetapi hasil tangkapan petugas bulan Februari lalu mencapai 34 kontainer daging impor selundupan,” paparnya.

Menurut Soekarwo, pelarangan masuknya daging impor ke Jawa Timur tidak semata karena merusak harga sapi lokal, tetapi juga karena sapi dari Jawa Tengah juga terdeteksi mengandung penyakit hewan anthraks.

“Kotorannya saja selama 40 tahun masih bisa menularkan,” pungkasnya.(ut/ara)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Gubernur Jatim Akui Daging Impor Masuk Pasar Jatim"