Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Gerindra: Didukung Partai Besar Belum Tentu Menang di Pilgub Jatim

02 Jun 2017 // 21:18 // HEADLINE, PILKADA

pilkada

SURABAYA (suarakawan.com) – Safari DPW PKB Jatim dan Saifullah Yusuf ke DPD Partai Demokrat dan DPD PDI Perjuangan, Kamis (1/6) lalu seolah membuat Pilgub Jatim 2018 sudah berakhir. Betapa tidak, tiga partai dengan jumlah kursi legislatif terbanyak mendukung wakil gubernur Jatim tersebut.

Namun, itu tidak berlaku bagi Partai Gerindra. Pasalnya mekanisme pilgub bukan lagi dipilih DPRD, melainkan dipilih langsung masyarakat. “Kalau dipilih dewan ya pasti menang. Tapi ini dipilih masyarakat,” kata Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jati Tjutjuk Sunario di DPRD Jatim, Jumat (2/6).

Perlu diketahui, PKB mendapat 20 kursi, PDI Perjuangan 19 kursi, dan Partai Demokrat 13, sehingga totalnya 52 kursi. Dengan total kursi di dewan 100, berarti yang tersisa 48 kursi. Matematika logis, Gus Ipul pasti menang, jika gubernur dipilih legislatif.
“Bukti konkret itu di Jakarta. Ahok didukung partai penguasa di legislatif. Tapi kenyataanya itu tidak sama dengan keinginan masyarakat Jakarta, sehingga Anis-Sandiaga yang diusung Gerindra bisa menang,” papar dia.

Begitu juga dengan kemungkinan koalisi. Menurut Tjutjuk, politik adalah dinamis. Saat ini masih jauh dari gelaran pilgub. Peta koalisi bisa berubah sewaktu-waktu menjelang injury time. Sebab itu Partai Gerindra tidak terburu-buru menentukan koalisi maupun menetapkan calon yang akan diusungnya.

Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim Anwar Sadad mengatakan, bahwa kekuatan politik Jawa Timur bukan hanya PKB dan PDI Perjuangan. Hal ini dikatakan karena pileg dan pilkada berbeda variabel. Buktinya kekuatan riil PKB tidak pernah berbanding lurus dengan elektabilitas ketuanya dalam berbagai survei yang dirilis. “PKB dalam sejarah reformasi, belum pernah memenangkan Pilgub Jatim,” terang Anwar Sadad.

Atas dasar itu, ia mengingatkan, jika tidak berhati-hati dalam strategi komunikasi, ditambah dengan persuasi yang buruk akan merugikan sendiri. “Bisa jadi kemenangan PKB dalam pileg lalu tak akan ada artinya dalam pilgub yang akan datang,” tegasnya.

Sementara itu, pengamat politik Andri Arianto mengakui jika pilgub dilakukan saat ini, memang Gus Ipul menang. Selain karena partai pengusungnya, juga karena popularitasnya memang tinggi. Namun demikian, ia menilai kecil kemungkinan hanya ada calon tunggal di Pilgub Jatim.
“Hanya satu pasangan, itu bisa menjadi wacana positif dan negatif. Ada yang mengatakan dengan satu pasangan calon maka terhindar dari bahaya konflik pilkada. Dengan satu pasangan calon menyatukan semua golongan. Itu bukan jaminan,” kata dosen FISIP Univeristas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

Kata Andri, pada kenyataannya masih ada tokoh-tokoh calon gubernur yang terus bergerak. Namun memang porsi pemberitaannya di media tidak seheboh safari Gus Ipul bersama PKB, ke PDI Perjuangan dan Partai Demokrat.

“Masih terlalu dini untuk mengatakan pilgub sudah selesai. Saat ini Gus Ipul memang pandai memanfaatkan momentum 1 Juni. Sehingga bisa mencitrakan diri bisa diterima di golongan religius maupun nasionalis. Sedangkan calon lain, itu juga terus bergerak memaparkan pemikiran-pemikirannya. Lainnya tetap bergerak. Artinya juga kecil kemungkinan hanya ada calon tunggal,” papar Andri. (aca/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini