Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Gaya Blusukan Tak Cukup Selesaikan Persoalan Bangsa

03 Jun 2014 // 17:25 // PILEG, POLITIK & PEMERINTAHAN

SURABAYA (suarakawan.com) – Sosiolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Agus Kristinanto menilai gaya blusukan yang ditonjolkan oleh pasangan Calon Presiden-Calon Wakil Presiden (Capres-cawapres) hanya kosmetik belaka. Gaya ini tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan bangsa Indonesia.

“Gaya Blusukan tak lebih hanya pada pencitraan belaka dan tidak menonjolkan program-program serta visi misi untuk Indonesia ke depan,” ujarnya ketika dihubungi di Surabaya, Selasa (3/6).

Sebagai pemimpin, menurutnya, seharusnya mengajari masyarakat dengan bertindak apa adanya, tidak berpura-pura dan harus original. Dia memberikan contoh saat kedatangan pasangan Jokowi- jusuf Kalla ke kantor KPU Pusat dengan menggunakan bajai adalah pencitraan.

Namun, ketika ke luar kota mereka menyewa jet pribadi dengan ratusan juta sewanya. “Tapi, apakah nanti akan seperti itu. Presiden itu bukan pencitraan tapi programnya apa. Kalau sekarang digembor gemborkan pencitraan itu hanya kosmetik saja,” tuturnya.

Dia menjelaskan, secara kualitas kepemimpinan, Jokowi sebenarnya belum layak mencalonlkan diri sebagai Presiden RI. Selama ini, minimnya prestasi Jokowi tertutupi dengan gaya kepemimpinannya yang dianggap masyarakat sangat populis.

“Rekam jejaknya mulai dari Walikota Solo-Gubernur DKI Jakarta yang baru kurang 2 tahun. Melihat rekan jejak itu, se harusnya jokowi belum pantas memimpin RI 1,” tegasnya.

Agus meminta agar masyarakat cerdas menilai sosok pemimpin sehingga tidak terjebak realitas yang semu. Harus memilih pemimpin yang konsisten dan punya visi misi yang jelas dalam membangun bangsa. “Masyarakat Indonesia harus cerdas dan jeli,” tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan Sosilog Unair Bagong Suyanto. Gaya blusukan tersebut dinilai tidak efektif karena konsistennya dipertanyakan. Apakah ketika terpilih juga seperti itu. “Ini yang menjadi pertanyaan, konsistennsya sulit bisa terjaga,” ujarnya.

Seharusnya, menurut Bagong, Capres mengedepankan programnya apa untuk rakyat. Sebab, rakyat sekarang sudah semakin cerdas. Masyarakat akan melihat apa yang akan dilakukan ke depan bukan mempertunjukkan prilaku demonstratif dihadapan media massa.

“Jangan selalu ditonjolkan dengan model kerakyatan, namun kenyataannya nanti setelah menjadi Presiden jauh dari itu. Sekarang kalau mau kompetisi yang harus ditonjolkan programnya,” paparnya. (Bng)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini