Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Gaji TKI di Inggris Capai Rp23 Juta Per Bulan

20 Jul 2017 // 06:31 // HEADLINE, KAWAN KITA

160603130049_domestic_workers_640x360_bbcindonesia_nocredit

LONDON (suarakawan.com) – Dalam kurun waktu enam tahun terakhir, kehidupan Musiri berubah total; dari tenaga kerja yang menanggung utang untuk biaya merantau ke Mesir menjadi tenaga kerja yang mampu berinvestasi.

Ketika BBC Indonesia mewawancarainya dalam laporan khusus Kisah Pembantu Indonesia di Inggris pada 2010 lalu, Musiri sudah dua tahun berada di Inggris bersama majikan keluarga dokter asal Mesir yang menetap di London.

Penyalur TKI ke Malaysia dibatasi
Ribuan TKI Arab Saudi siap dideportasi
Tenaga kerja asal Bojonegoro, Jawa Timur ini, hanya digaji £110, dengan kurs sekarang setara dengan R2,1 juta per bulan, jumlah yang terlalu rendah untuk standar gaji di negara maju seperti Inggris.

Oleh karenanya, ia kabur dari majikan pada 2010, mendapat majikan baru dan sejak itu kondisi Musiri sudah berubah.

“Sekarang saya dapat kerja lumayanlah buat biaya anak sekolah. Saya punya anak dua, keduanya kuliah. Yang satu sudah lulus, sekarang sarjana. Terus yang satu tahun ketiga, mengambil arsitek,” kata Musiri.

Bekerja untuk keluarga pengusaha asal Lebanon yang berdomisili di Inggris, Musiri menerima gaji £1.800 (sekitar Rp35 juta) per bulan, lebih tinggi dibandingkan upah standar nasional Inggris £1.152 (sekitar Rp23 juta) per bulan jika menggunakan patokan upah nasional minimum £7.20 per jam dan bekerja selama 40 jam per minggu.
Akan tetapi gaji tersebut belum dipotong pajak, biaya transportasi, sewa rumah dan biaya hidup lainnya yang tergolong mahal di ibu kota Inggris.

Jelas dengan pertambahan gaji tersebut, Musiri dapat melakukan banyak hal di Bojonegoro. Ia mampu menguliahkan kedua putrinya, dan membantu mengangkat taraf hidup keluarganya, termasuk kedua orang tuanya.

“Selain itu, buat beli rumah, beli motor buat dua anak saya dan dua keponakan saya, dan beli tanah juga. Alhamdulillah senang,” tuturnya.

“Sedikit-sedikit saya juga punya tabungan dan tahun depan beli mobil.”

Dengan mobil barunya nanti, Musiri berharap dapat menyetir sendiri dari rumah kontrakannya ke rumah majikan orang Lebanon di gedung apartemen mewah menghadap ke Sungai Thames, London.

‘Terancam dipulangkan’

Di Southall, kantong komunitas India dan Pakistan berbaur dengan komunitas dari negara-negara lain, termasuk tenaga kerja asal Indonesia.

Di kawasan yang suasananya kental Asia Selatan ini, saya ingin mencari, Ida, seorang tenaga kerja Indonesia yang enam tahun lalu terancam dipulangkan karena masa berlaku visanya habis.

Karena paspor ditahan majikan, ia mengaku kabur tanpa dokumen setelah merasa mendapat perlakuan buruk dari majikan, keluarga diplomat Indonesia.

Kini Ida tinggal di sebuah rumah tak jauh dari keramaian jalan utama, dan sudah punya dua anak, masing-masing berusia tiga bulan dan dua tahun. Soal visa serta paspor, ia mengaku sudah mengantongi semuanya.

“Visa sudah beres, paspor juga sudah beres. Dan Insya Allah mengajukan lagi tahun 2018, visa domestic worker continue (perpanjangan visa pekerja domestik,” Ida berkata.

Meskipun sudah memiliki dua anak, Ida mengaku masih bisa membantu ibunya di Lampung dengan mengirimkan uang secara berkala.

Di Southall, para pekerja migran dari berbagai negara hidup berdampingan.
Kisah Musiri dan Ida, menurut Anis Hidayat Direktur Migrant Care, LSM yang mengurusi buruh migran, mencerminkan mobilitas sosial ekonomi pekerja domestik dan itu terbukti di kampung-kampung asal mereka.

“Hasil penelitian Migrant Care tahun 2014 dan yang juga kita lakukan lagi tahun 2015 itu menunjukkan bahwa memang buruh migran perempuan yang bekerja sebagai PRT di banyak negara merupakan aktor penting dari pembangunan di Indonesia. Dan secara nyata menggerakkan pembangunan. Di NTT misalnya, itu hampir mayoritas sarjana, dan di NTB itu sumbangan buruh migran perempuan karena jerih payah mereka di luar negeri,” jelas Anis Hidayat.

Di samping “menelurkan sarjana”, Anis menambahkan, sebagian TKI yang pulang melanjutkan pendidikan mereka ke perguruan tinggi. Yang sudah jamak dilihat adalah hasil-hasil pembangunan fisik, terutama rumah, di kantong-kantong asal TKI.(bbc/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini