Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

FK3JT: Kiai Sepuh Harus Berkirim Surat ke Semua Parpol

27 May 2017 // 03:39 // HEADLINE, PILKADA, POLITIK & PEMERINTAHAN

20170523_122829

SURABAYA (suarakawan.com) – Forum Komunikasi Kiai Kampung Jawa Timur (FK3JT) tak pernah berhenti memprotes surat dukungan 1.000 kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) dan Pondok Pesantren (Ponpes) terkait Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jatim 2018 mendatang.

FK3JT pimpinan KH Fahrurozi ini, mempermasalahkan surat dukungan kiai NU yang hanya ditujukan kepada DPW PKB Jatim saja. Kiai sepuh yang sebagian besar pengurus PWNU itu juga harus berkirim surat serupa ke partai politik (parpol) lainnya.

“Ya nggak betul itu (surat dukungan kiai terkait Pilkada Jatim) dan sudah menjurus ke pencederaan terhadap demokrasi, sehingga perlu langkah-langkah yang sekiranya itu adalah kebijakan yang adil,” kata kata Koordinator FK3JT KH Fahrurrozi kepada wartawan di Surabaya, Jumat (26/5).

Protes Gus Fahrur-sapaan akrab Fahrurrozi-ini cukup wajar. Dia punya asalan kuat atas protesnya itu. Yakni, kader NU tidak hanya ada di PKB belaka. Kader NU juga tersebar di berbagai partai politik lainnya seperti PPP, Gerindra, NasDem, Demokrat dan partai lainnya.

“Sekalian saja semuanya (partai) disurati, dan semuanya dilamarkan untuk Gus Ipul. Kenapa, biar adil dong. Nguwongke lah (memanusiakan manusia) bahwasanya kader NU itu ada dimana-mana dan harus kita hargai. Daripada nanti menimbulkan kecemburuan politik. Kalau perlu, sekalian saja NU menjadi partai politik,” ujarnya.

Menurutnya, sikap dari kiai-kiai sepuh yang berkirim surat ke PKB, serta kegiatan 1000 kiai di Sidoarjo beberapa waktu lalu, sudah melenceng dari Khittah NU. Buah surat dari beliau-beliau itu menimbulkan politik praktis. “Manuvernya itu menjadikan politik praktis,” tegasnya.

Seharusnya, lanjut Gus Fahrur, kia yang sudah sepuh, lebih baik menjaga moral bangsa ini, menjaga Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika. Serta lebih penting, bagaimana menangkal terorisme di Indonesia, melalui fatwa-fatwa para kiai, yang rahmatan lilalamin.

“Saya yakin, para kiai sepuh itu tidak menyadari. Menurut saya, itu keluguan para kiai-kiai yang dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu,” jelasnya. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini