FAM Unair Peringati 5 Tahun Lumpur Lapindo

Tidak ada komentar 11 views

Demo FAM Unair memperingati 5 tahun semburan lumpur Lapindo

SURABAYA (suarakawan.com)-Hari ini tanggal 29 Mei 2011 genap lima tahun usia semburan lumpur Lapindo yang mengubah jalan hidup ribuan warga Porong Sidoarjo.

Belum tuntas masalah ganti rugi warga korban lumpur baik yang masuk peta terdampak maupun yang tidak, berita mengejutkan kembali datang dari Sidoarjo bahwa Lapindo berencana menambah titik eksplorasi di Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, yang hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat semburan lumpur.

“Baru kemarin rasanya, semburan lumpur Lapindo menghancurkan kehidupan warga Porong. Rumah, tanah dan juga harapan warga Porong, Sidoarjo untuk hidup layak seperti warga lainnya seakan hilang begitu muncul semburan lumpur Lapindo. Di saat air mata masih basah, di saat luka masih menganga itu Lapindo memiliki rencana kembali melakukan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) di wilayah itu,” papar humas FAM Unair, Muhammad Rissalah, Minggu.

Keberanian Lapindo untuk kembali melakukan pengeboran di Sidoarjo setidaknya didasarkan 2 alasan. Pertama, pemerintah menyatakan bahwa semburan lumpur Lapindo adalah bencana alam dan tidak terkait pemboran. Pernyataan itu di dukung pula dengan tindakan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus pidana Lapindo.

Keyakinan itu seakan mengabaikan dokumen rahasia Medco, mitra Lapindo dalam mengeksplorasi migas di Blok Brantas, yang menyatakan bahwa semburan lumpur di Sidoarjo terkait dengan aktivitas pengeboran. Bahkan laporan audit BPK dan pendapat mayoritas pakar pengeboran internasional menyatakan hal yang sama pun diabaikan oleh pemerintah.

Kuatnya keyakinan pemerintah bahwa semburan lumpur bencana alam juga tercermin dari munculnya wacana untuk menjadikan kawasan semburan sebagai tempat wisata geologi. Pesan dari munculnya wacana itu sangat jelas bahwa semburan lumpur justru membawa berkah bagi masyarakat sekitar karena kawasan yang terkena semburan dapat menjadi tempat wisata. Dan itu artinya akan mendatangkan uang.

“Jadi tidak perlu ada yang ditakutkan lagi jika ada eksplorasi migas lanjutan di kawasan itu. Kalaupun nanti terjadi kecelakaan pengeboran, toh akan tetap bisa membawa berkah bagi masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Kuatnya keyakinan pemerintah bahwa semburan lumpur Lapindo bencana alam, juga terlihat dari pola penanganan dampak semburan lumpur itu. Dalam penanganan dampak semburan lumpur, persoalan ganti rugi dibelokan menjadi sekedar persoalan jual beli aset.

Bahkan jika mau ditelisik lebih dalam, kasus Lapindo bukan hanya sekedar persoalan semburan lumpur. Ada persoalan perijinan pertambangan di kawasan padat huni. Ketentuan Badan Standar Nasional Indonesia tentang operasi pengeboran darat dan lepas pantai di Indonesia misalnya, menyebutkan bahwa sumur pengeboran migas harus dialokasikan sekurang-kurangnya 100 meter dari jalan umum, rel kereta api, pekerjaan umum, perumahan, atau tempat-tempat lain yang berpotensi menimbulkan sumber nyala api.

“Bagaimana dengan ekplorasi pengeboran dalam kasus Lapindo? Sumur Banjar Panji-1 hanya berada 5 meter dari wilayah permukiman, 37 meter dari sarana publik, dan kurang dari 100 meter dari pipa gas Pertamina,” paparnya.

Maka itulah dalam peringatan 5 tahun Kejahatan Kemanusian Lumpur Panas Lapindo, Forum Advokasi Mahasiswa (FAM) Universitas Airlangga menyatakan sikap :

1. Mendukung perjuangan rakyat Sidoarjo korban lumpur panas lapindo untuk mendapatkan ganti rugi yang layak dari PT Minarak Lapindo.

2. Mendesak pemerintah menolak rencana baru pengeboran eksplorasi Lapindo di Sidoarjo karena keselamatan warga Sidoarjo harus lebih diutamakan.

3. Mendesak pemerintah membawa kasus Lumpur Lapindo ini ke pengadilan dan lapindo harus bertanggung jawab atas akibat yang ditimbulkannya.

Dalam aksi yang digelar di depan gedung Negara Grahadi ini, para mahasiswa melakukan aksi teatrikal menjadi manusia lumpur. (nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "FAM Unair Peringati 5 Tahun Lumpur Lapindo"