Fam Unair Canangkan “Gerakan Merah Putih 1954”

salah satu aksi teatrikal Fam Unair

SURABAYA (suarakawan.com) – Tak ada matinya. Mungkin itu yang layak disematkan pada aktivis mahasiswa Unair. Betapa tidak, dalam rangka menuntut Pembatalan Kenaikan Biaya Pendidikan di Unair dan Praktek Neoliberalisme Pendidikan di Kampus Unair, selalu ada saja ide kreatif yang mereka lontarkan sehingga aksi-aksi mereka selalu menarik.

Terbaru, mereka membuat “GERAKAN MERAH PUTIH 1954”. Gerakan ini di inspirasi oleh sejarah nasionalisasi Nederlands Indische Artsen School (NIAS) dan School Tot Opleiding van Indishe Tandartsen (STOVIT), yang masing-masing didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1913 dan 1928. Kedua Lembaga Pendidikan tersebut oleh Bung Karno kemudian secara resmi di ubah menjadi Universitas Airlangga pada 10 November 1954.

“Setelah bendera merah putih terkumpul kami akan melakukan aksi simbolisasi pemasangan bendera merah putih sejumlah 1954 di berbagai dalam Kampus Unair dengan tujuan membangkitkan kembali semangat nasionalisasi NIAS dan STOVIT menjadi Universitas Airlangga tahun 1954,” papar humas aksi Angela S. Nariswari, Sabtu (02/07).

Aksi tersebut untuk membangkitkan sebuah semangat yang menurut mahasiswa hari ini semakin tercerabut dan hilang dari kampus Unair dengan di tandai masih bungkamnya para dosen dan pejabat Unair terhadap penerapan agenda Neolberalisme Pendidikan di Unair, yang merupakan rekomendasi dari tiga setan dunia “IMF, Bank Dunia dan WTO”.

“Maka itulah kami dari Forum Advokasi Mahasiswa UNAIR mengundang solidaritas dan partisipasi kawan-kawan sekalian dalam membantu kami dalam mengumpulkan 1954 bendera merah putih. Bendera tersebut bisa di serahkan langsung ke posko kami  yang bertempat di bawah dinding Revolusi, depan perpustakaan kampus B Unair. Yang kami mulai pada hari senin 4 Juli 2011-selesai,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *