Erdogan-Paus Fransiskus Sepakat Tolak Keputusan Sepihak Trump Soal Yerusalem

VATIKAN (suarakawan.com) – Recep Tayyip Erdogan menjadi Presiden Turki pertama selama 59 tahun yang mengunjungi Paus Fransiskus di Vatikan, Senin (5/2). Lawatan bersejarah itu diwarnai dengan bentrokan antara polisi dan demonstran di Vatikan.

Polisi, yang nyaris menutup seluruh Vatikan selama kunjungan Erdogan menyatakan dua orang ditahan setelah demonstran berusaha menerobos penjagaan untuk masuk ke Vatikan.

Dalam pertemuan selama 50 menit dengan Paus Fransiskus, Erdogan membahas masalah Yerusalem, perkembangan di Timur Tengah, khususnya Suriah, terorisme serta dialog antar-agama.

Pernyataan resmi Vatikan menyebut perbincangan antara lain soal “status Yerusalem, perlunya meningkatkan perdamaian dan stabilitas di kawasan (Timur Tengah) melalui dialog dan negosiasi, dengan menghormati hak asasi manusia dan hukum internasional.”

Baik Erdogan maupun Paus Fransiskus menyatakan bahwa mereka menentang keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Kebanyakan sekutu-sekutu Amerika Serikat pun menyatakan hal itu merusak upaya perdamaian di Timur Tengah.

Erdogan dan Paus Fransiskus menyatakan perlunya perlindungan status Yerusalem, kota suci bagi umat Muslim, Kristen, dan Yahudi, sebagaimana ditetapkan resolusi Perserikatan Bangsa-bagnsa dan hukum internasional.

Menurut kantor berita Turki Anadolu, Paus Fransiskus menyampaikan penghargaan atas upaya Erdogan terkait Yerusalem, mendukung sikap Turki dan bantuan terhadap para pengungsi.

Di akhir pertemuan, Paus memberikan medali perunggu bergambar malaikat merangkul belahan bumi utara dan selatan sambil melawan seekor naga.

“Ini malaikat perdamaian yang menelikung setan perang,” kata Paus saat memberikan medali karya seniman Italia, Guido Verol tersebut kepada Erdogan seperti dilansir Reuters. “Ini adala simbol dunia berdasarkan perdamaian dan keadilan.”

Aksi demonstrasi digelar sekitar 150-an orang, termasuk warga Kurdi dan para pendukungnya dekat Kastil Santo Angelo, sebuah benteng di tepi Sungai Tiber. Aksi berujung ricuh saat polisi anti-huru-hara berusaha mendorong pemrotes yang ingin menerobos penjagaan. Sedikitnya satu demonstran luka-luka.

Sebanyak 3.500 polisi dan aparat keamanan dikerahkan di Roma. Aparat menyatakan sejumlah wilayah tidak boleh dimasuki demonstran. Yakni Vatikan, hotel tempat menginap Erdogan, dan Istana Italia dimana Presiden Turki itu akan bertemu dengan Perdana Menteri Italia Paolo Gentiloni.

Adapun menurut kantor berita Anadolu, dalam pertemuan dengan Paus Fransiskus, Erdogan mengimbau agar ujaran-ujaran yang menyesatkan, yang bisa menyamakan Islam dengan terorisme bisa dihindari. Masalah tersebut dibahas terkait xenofobia dan Islamofobia. “Kedua pemimpin menekankan bahwa menyamakan Islam dengan teror itu salah,” tulis Anadolu.

Erdogan dan Paus Fransiskus telah menyampaikan kesamaan sikap mereka soal Yerusalem lewat pembicaraan telepon Desember lalu, seusai Trump mengumumkan keputusan mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

Paus Fransiskus menekankan bahwa Vatikan mendukung solusi dua negara untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Kedua pihak sepakat bahwa perubahan status quo Yerusalem harus dihindari. Penetapan status itu harus menjadi bagian dari sebuah proses perdamaian.

Warga Palestina mendambakan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota negeri mereka saat merdeka di masa depan. Adapun Israel, secara sepihak menyatakan seluruh kota sebagai ibu kota mereka, meskipun hal tersebut dilarang lewat resolusi PBB.(cnn/rur)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Erdogan-Paus Fransiskus Sepakat Tolak Keputusan Sepihak Trump Soal Yerusalem"