Ekspor Gas Indonesia ke Jepang Tidak Terganggu

JAKARTA (IFT) – Ekspor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) Indonesia ke Jepang dipastikan tidak terganggu kendati sebagian wilayah negara tersebut terkena gempa bumi dan tsunami pada Jumat pekan lalu.

Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi, R Priyono mengatakan hingga akhir pekan lalu belum ada laporan pasokan LNG dari Indonesia yang bermasalah.

Tahun ini Indonesia akan mengirimkan 172 kargo LNG ke Jepang yang berasal dari kilang Tangguh di Teluk Bintuni, Papua Barat; kilang Bontang, Kalimantan Timur; dan kilang Arun di Nanggroe Aceh Darussalam. Satu kargo LNG dari kilang Tangguh setara 140 ribu metrik ton dan dari kilang Arun dan Bontang sebesar 125 ribu metrik ton.

Dua kargo gas dikirimkan ke Eastern Buyer (pelabuhan penerima LNG berada di Jepang sebelah timur ), yaitu Tohoku Electric Power di Sendai dari kilang Tangguh, sisanya dipasok ke Western Buyer (pelabuhan penerima LNG di Jepang sebelah barat) antara lain Nippon Steel, Chubu Electric Power Co Inc, dan Kansai Electric Power Co Inc, dan Kyushu Electric Power Co Inc.

Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas Badan Pelaksana, Gede Pradnyana mengatakan pihaknya masih belum mendapat informasi apakah pembeli gas dari Jepang akan menunda atau pun mengurangi pengiriman LNG dari Indonesia.

“Saya yakin Tohuku tetap akan mengambil dua kargo,” ujarnya.

William Lin, President BP Asia Pacific Exploration & Production kepada IFT, mengatakan pihaknya prihatin terhadap bencana yang terjadi di Jepang tersebut. Dampak gempa bumi dan tsunami di negara tersebut juga melanda beberapa bagian di Papua, namun tidak mempengaruhi operasional kilang Tangguh yang dikelola BP.

“Sejauh ini operasi kilang normal, tapi kami masih memantau situasi dan mempersiapkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat minyak dan gas bumi dari Universitas Indonesia,Kurtubi mengatakan gempa dan tsunami di Jepang akan meningkatkan permintaan LNG dan batu bara dari negara tersebut. Pemerintah setempat menghentikan operasional empat pembangkit listrik tenaga nuklir, yang tentunya akan membuat kebutuhan genset dan bahan bakar minyak meningkat.

“Dalam jangka panjang, Jepang membutuhkan gas dan batu bara untuk menggantikan energi nuklir,” ujarnya.

Kepala Dinas Humas dan Hubungan Kelembagaan Badan Pelaksana, Elan Biantoro mengatakan saat ini pihaknya membuka opsi mengekspor minyak mentah jenis Sumatra Light Crude ke Jepang seiring dengan rusaknya empat reaktor nuklir di negara tersebut. Bila ada permintaan pasokan minyak dari Jepang, Indonesia siap memasoknya kapan pun.

“Kami juga masih memantau jadwal pengiriman LNG ke Jepang,” ujarnya.

Ekspor LNG Indonesia tahun ini sebanyak 362 kargo turun dari tahun lalu 427 kargo, karena pemerintah lebih mengutamakan alokasi gas untuk pasokan dalam negeri sebanyak 4.366 miliar british thermal unit per hari (bbtud) atau mencapai 56,78%. Alokasi gas untuk ekspor sebesar 43,22% atau 3.322 bbtud, turun dari realisasi ekspor tahun lalu yang mencapai 4.311,58 bbtud atau 49,82% dari produksi gas nasional. (FT/ara)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Ekspor Gas Indonesia ke Jepang Tidak Terganggu"