Eddie Mbun Ngotot Bimtek 3 hari Jadi 1 Hari Tak Masalah

Junaedi dan Eddie Budi Prabowo seusai menjalani pemeriksaan

SURABAYA (suarakawan.com) – Pemeriksaan dua anggota dewan Djunaedi selaku sekretaris komisi D DPRD Surabaya dari partai Demokrat dan Eddie Budi Prabowo selaku ketua Komisi D dari partai Golkar  menjalani pemeriksaan sekitar 9 jam di Mapolrestabes Surabaya mulai jam 09.30 wib-18.30 wib,sedangkan mantan Sekwan Abu Chazim menjalani pemeriksaan sekitar 6 jam.

Dengan pemeriksaan hari ini, temuan penyidik bahwa penyelenggaraan bimbingan teknis (bimtek) ada yang fiktif semakin mendapatkan titik terang.

Selain manipulasi nama peserta (Titip absen), lama pelaksanaan kegiatan juga tidak sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.Seperti kegiatan yang dijadwalkan berlangsung tiga hari misalnya, ternyata sebagian anggota DPRD hanya mengikutinya sehari. Selebihnya, waktu dihabiskan untuk perjalanan dan persiapan pulang.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya, Eddie  Budi Prabowo membenarkan model kegiatan bimtek semacam itu. Namun dia menampik jika hal itu dikatakan fiktif. Politisi partai Golkar ini bersikukuh jika kegiatan tersebut tetap dihitung tiga hari.

“Aturan perjalanan dinas memang seperti itu. Jadi mulai berangkat sampai pulang tetap dihitung, meski tidak sampai 24 jam penuh. Jadi bukan kok hanya tiga jam saja seperti yang ditudingkan selama ini,”terangnya seusai pemeriksaan,Rabu(20/7).

Saat di tanya tentang peserta yang hanya titip absen saja, Budi mengaku tidak tahu. “Kalau di komisi saya (komisi D) semua ikut. Hanya jumlahnya tidak sama. Ada yang tujuh kali, 10 kali atau bahkan 15 kali. Saya tidak tahu kalau di komisi lain,”ujarnya.

Anggota dewan yang akrab disapa Edi Mbun ini membenarkan jika pada tahun 2010 kegiatan bimtek dijadwalkan hingga 12 kali. Namun dalam perubahan rencana kerja (Renja) pada saat Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) kegiatan ditambah hingga 18 kali. “Penambahan jadwal Bimtek itu menjadi wewenang pimpinan dewan,”ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris komisi D Junaedi enggan berkomentar banyak atas hasil pemeriksaan kemarin. Politisi Partai Demokrat ini hanya mengaku jika materi pemeriksaan dirinya sama dengan anggota dewan yang lain. “Semua sudah saya sampaikan kepenyidik,jadi tanyakan saja kepada penyidik,”tambahnya.

Budi dan Junedi mengaku diperiksa penyidik dengan 40 pertanyaan. Materinya juga hampir sama. Yakni seputar renja, hingga pelaksanaan. Meski demikian, proses pemeriksaan kedua legislator ini relatif lebih cepat dibanding Musyafak Rouf. Sebab dia hanya diperiksa selama sembilan jam.

Sementara itu mantan Sekretaris Dewan (Sekwan), Abu Chazim Latief mengatakan selama ini pihaknya sudah prosedural menjalankan tugasnya ketika masih menjabat Sekwan. Khususnya dalam melakukan pengecekan administrasi dari seluruh kegiatan dewan.

“Masalah administrasi betul-betul saya cek,namun masalah lokasi saya tidak terlalu mengeceknyal,”paparnya.

Terkait kasus dugaan korupsi bimtek, Abu mengaku tidak tahu karena kegiatan tersebut berlangsung saat dirinya sudah memasuki masa pensiun.
“Sebagai Sekwan jelas  tahu saat ada perubahan renja. Tetapi saat pelaksanaan saya sudah pensiun,”tambahnya.

Dilain pihak Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Indarto saat dikonfirmasi terkait pemeriksaan hari ini mengatakan masih belum mendapat laporan,karena sedang tugas luar. “Malam ini kita akan anev untuk menentukan pemeriksaan selanjutnya,”ujarnya

Alumni Akpol ’95 ini menambahkan  tahapan selanjutnya, polisi besok Kamis  akan ekspos ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk dilakukan audit inventigasi guna mengetahui kerugian negara.(Wis/nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *