Dwi Wardiyah Hilang Kontak Sejak 2009

Tidak ada komentar 6 views

demo TKI (dok)

SURABAYA (suarakawan.com) – Dari data Migran Institute Care sealin Darsem, masih banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Jawa Timur yang terancam dihukum pancung. Salah satunya adalah Dwi Mardiyah. TKW asal Desa Desa Karang Semanding, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember ini bekerja di Arab Saudi sekitar tahun 2007.

Dwi Mardiyah hilang kontak dengan keluarga sejak tahun 2009. Ketika itu dikabarakan, Dwi akan dihukum pancung. Hingga saat ini belum jelas nasib sang pahlawan devisa ini.

Manajer Program Migran Institute, Ali Yasin saat di hubungi melalui telepon selularnya, Sabtu (25/06) mengatakan, keterangan tersebut disampaikan ke keluarga ke Migrant Institute. Sayangnya, hingga saat ini belum ada kejelasan terkait nasib Dwi itu.

“Jika seseorang sudah dalam penjara gelap, tentunya akan sama dengan Siti
Zaenab, TKI asal Bangkalan,” katanya.

Migrant Institute kesulitan mengakses data dari 8 TKI yang terancam dipenggal itu. Bahkan berkali-kali meminta ke Kementrian Luar Negeri (Kemenlu) juga tidak dapat memberikan akses data. Satu-satunya jalan adalah, Presiden SBY sebagai kepala Negara melakukan lobby ke Pemerintah Arab Saudi.

“Presiden harus turun sendiri dengan meminta meminta data By Name dan By Adrees,” katanya

Memang diakui sistim peradilan di Arab Saudi sangat tertutup berbeda dengan di negara lain.

“Kalau di Hongkong kita mudah mengakses datanya. Disamping Hongkong negara yang memberikan perlindungan terhadap buruh migran. Kami juga punya perwakilan di sana,”terangnya.

Berdasarkan data dari Migran Institute, sebanyak 8 TKI asal Jatim yang terancam dipancung di Arab Saudi. Mereka adalah Sulaimah (Madura), dituduh membunuh majikannya melakukan penyiksaan. Kemdian Dwi Mardiyah (Jember), keluarga mengaku tidak dijelaskan kesalahannya. Selanjutnya, Nurfadilah (Bondowoso), dituduh membunuh majikannya melakukan penyiksaan.

Selanjutnya, Nurfadilah (Bondowoso), dituduh membunuh majikannya melakukan penyiksaan. Siti Zaenab binti Duhri Rupa (Bangkalan), diancam hukuman pancung dan tahun 1999 akan dieksekusi mati, namun Presiden Gus Dur melakukan diplomasi dengan Raja Fahd, dan membuahkan hasil eksekusi ditunda hingga tahun ini.

Ada lagi, Hafidz bin Kholil Sulam (Tulungagung), membunuh majikan, diancam hukuman pancung, selanjutnya Nursiyati (Jember), divonis hukuman dua tahun sedang menunggu proses hukuman rajam dan Muhammad Zaini (Madura), kasus pembunuhan dan terancam hukuman mati. (aca/nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Dwi Wardiyah Hilang Kontak Sejak 2009"