Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Doa Rohingya, PCNU Surabaya Minta Jangan Impor Kebiadaban di Myanmar

12 Sep 2017 // 08:58 // DAERAH, HEADLINE, PERISTIWA

IMG-20170912-WA0000

SURABAYA (suarakawan.com) – Tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohigya akibat tindakan biadab rezim militer Myanmar terus mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat di Jawa Timur.

Bahkan PCNU Kota Surabaya bersama seluruh badan otonomnya sengaja menggelar sholawat dan doa bersama untuk Rohigya di Kantor PCNU Kota Surabaya, Jalan Bubutan Surabaya, Senin (11/9) malam.

Kegiatan yang juga dihadiri perwakilan dari forum kerukunan umat beragama di Surabaya itu diawali dengan pembacaan sholawat nabi oleh jamaah majelis sholawat Lesbumi. Kemudian dilanjutkan dengan istighosah dipimpin langsung rais syuriah PCNU Kota Surabaya, KH Mas Sulaiman Nur, lalu dilanjutkan pembacaan Sholat Nariyah sebanyak 4444 kali dan Hasbunallah 19000 kali serta ditutup dengan doa bersama.

Ketua PCNU Kota Surabaya, Dr KH Muhibbin Zuhri dalam sambutannya menyitir sebuah ayat Alqur’an yang mengingatkan bahwa barangsiapa membunuh seseorang, maka itu
seolah-olah dia membunuh seluruh manusia. Artinya, tak pedui agama apa dia sebab kemanusiaan itu sangat penting dalam Islam.

“Khizdun Nasf (menjaga jiwa) itu menempati peringkat pertama, sehingga kita mengutuk dan terluka perasaan kemanusiaan khususnya keimanan karena suku Rohignya adalah seagama dengan kita,” terang Kiai Muhibbin Zuhri.

Kendati demikian, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya itu menekankan bahwa
kemarahan tak boleh membuat kalap karena justru hal itu bisa menimbulkan madharat (kerusakan) di negeri yang kita cintai. “Bagi warga NU mensikapi aksi kekejaman etnis Rohigya adalah menurut pada seruan yang sudah diberikan PBNU,” tegas Muhibbin.

Sikap keprihatinan mendalam dengan cara berdoa kepada Allah adalah sangat dianjurkan, sebab doa adalah perisai dan senjata bagi orang yang beriman. “Kita berdoa untuk saudara kita di Myanmar maupun negara lain yang mengalami penindasan dan dengan sholawat supaya bisa membuka hijab antara hamba dengan Allah sehingga doa kita diijabahi Allah,” katanya.

Diantara seruan PBNU, lanjut Muhibbin, yakni pertama, komitmen bukan membuat orang terusir dan mati tapi justru membuat kehidupan yang harmonis. Kedua, kita berikan bantuan melalui jalur yang benar yaitu melalui lazisnu serta LBPI PBNU.

Ketiga, mendesak pemerintah Indonesia untuk lakukan tindakan terukur dan efektif melalui jalur diplomasi. “Kita bersyukur Indonesia akhirnya dipercaya PBB lakukan investigasi sehingga kekejaman yang menimpa etnis Rohigya
bisa segera berakhir,” harapnya.

Aksi kekejaman di Myanmar jangan diimport ke negeri tercinta ini. “Sebab
tak bermusuhan dengan agama dan keyakinan apapun di negara ini. Walaupun pada 22 Oktober 1945, di tempat ini NU pernah serukan jihad itu karena penjajah mendholimi bangsa Indonesia. Jadi kedholiman yang kita perangi baik dilakukan perseorangan maupun berjamaah,” pungkas pria asli Gunung Anyar Surabaya ini. (aca/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini