Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Dituduh Berbohong, Presiden Jokowi Layangkan Hak Jawab

05 May 2017 // 23:14 // HEADLINE, POLITIK & PEMERINTAHAN

jokowi

JAKARTA (suarakawan.com) – Presiden Joko Widodo melayangkan hak jawab ke media South China Morning Post atas tuduhan berbohong dalam kaitan peringkat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tulisan itu dibuat oleh kolumnis Jake Van Der Kamp, pada 1 Mei 2017.

Dia menilai Jokowi berbohong karena menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah peringkat ketiga setelah India dan China. Dalam siaran pers Kepala Biro Pers, Media dan Informasi (BPMI) Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, disebutkan kalau yang dimaksud Jokowi adalah peringkat ketiga di negara-negara G20.

“Pada saat Presiden Joko Widodo berbicara tentang peringkat pertumbuhan ekonomi Indonesia, di layar sedang terpampang tayangan mengenai pertumbuhan ekonomi negara-negara G-20 yang menunjukkan Indonesia berada pada posisi ke-3 setelah India dan RRT. Inilah konteks penjelasan presiden kepada sekitar 5.000 warga Indonesia yang hadir di Asia World Expo, Hong Kong, 30 April 2017,” kata Bey, Jumat (5/5).

Pemerintah Indonesia menilai, Van Der Kamp-lah yang keliru memaknai apa yang dipaparkan Jokowi. Apalagi tidak hadir dalam pemaparan tersebut.

“Kritik ini justru yang keliru. Van Der Kamp tidak mengetahui latar belakang penjelasan presiden,” kata Bey.

Atas kekeliruan itu, Istana melalui Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden, melayangkan hak jawab terhadap tuduhan itu.

“Kami telah mengirimkan penjelasan ini melalui surat elektronik kepada pihak South China Morning Post untuk segera dimuat.” (viv/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini