Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Disperindag Jatim Diminta Awasi Harga Bahan Pokok Agar Stabil

04 Jun 2017 // 14:06 // EKONOMI, HEADLINE

IMG-20170603-WA0006

SURABAYA (suarakawan.com) – Memasuki Ramadhan hari ke 8, harga harga bahan pokok di pasar relatif stabil. Oleh karena itu pihaknya berharap kepada pemerintah provinsi Jatim untuk mengawasi harga bahan pokok dipasaran tetap stabil hingga lebaran nanti.

Wakil ketua Komisi B DPRD Jatim Anik Maslachah mengatakan dari sidak yang dilakukan komisinya Operasi pasar dipasar Sentani Betek kota Kediri Sabtu (3/6) terpantau beberapa harga bahan pokok seperti beras, telur, daging relatif stabil.

“Hasil operasi harga pokok pangsa relatif masih stabil, bahkan ada yang dibawah HET seperti cabe rawit dimana HET 50 ribu, harga dipasaran 38-40 rb. Ini karena memang kediri adalah daerah penghasil . Sedangkan bahan pokok yang diatas HET,” ungkap politisi PKB ini ditemui di Surabaya, Minggu (4/6)

Sidak yang dilakukan komisi B DPRD Jatim bersama Deperindag Jatim dan kota Kediri, Satgas Pangan, Diskaperbapo, dan PD Pasar Kota Kediri ini diketahui beberapa komoditas barang mengalami kenaikan harga.

“Minyak goreng HET Rp11 ribu sedangkan harga pasar Rp11.500, alasan pedagang dikarenakan harga belinya sudah mahal, sedangkan harga yang masih melambung adalah bawang putih Rp52-54 ribu sedangkan HET Rp38 ribu, ini dikarenakan Jatim hanya bisa menyediakan 13 % dari kebutuhan sehingga harus import,” tambah Anik

Khusus harga telur, tambahnya 3 hari lalu sempat di atas HET yaitu Rp 19 ribu sedangkan HET nya 16.500 ini dikarenakan pemerintah kota Kediri gencar melakukan pasar murah untuk menstabilkan harga yang sempat mengalami kenaikan setiap hari dilakukan pengecekan harga oleh Siskaperbapo.

Karenanya dari hasil tinjauan ini, Komisi B berharap agar pemerintah tidak hanya memantau harga pasar murah tetapi juga mengawasi secara ketat terhadap distributor karena pemicu kestabilan harga itu berangkat dari distributor.

“Bila distributor menjual ke pedagang tinggi, secara otomatis pedagang akan menjual lebih tinggi lagi, karenanya penegakan sangsi harus diterapkan sesuai dg aturan yg ada. Agar mereka tdk seenaknya memainkan harga,” ungkap ketua Perempuan Bangsa Jatim ini.

Komisi B, ungkap Anik meminta pemerintah menempatkan informasi melalui TV LED di tempat yang strategis dengan tulisan besar sehingga masyarakat mudah membacanya. (aca/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini