Dikeroyok, Taufik Monyong Lapor ke DPRD

2 comments 3 views

SURABAYA – Taufik ‘Monyong’, seniman asal Surabaya melaporkan aksi pengeroyokan yang dialaminya di RSUD dr. Soetomo Surabaya kepada DPRD Jawa Timur, Kamis (14/4). Taufik yang didampingi rekan sejawat dari Forum Komunikasi Aktivis ’98, diterima di Ruang Komisi E.

“Kami akan memanggil pimpinan RSUD dr. Soetomo,” kata Anggota Komisi E, Kuswanto saat dengar pendapat dengan Taufik.

Kuswanto menilai tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh karyawan RSUD dr. Soetomo itu adalah sangat buruk. Hanya karena protes atas kelambanan para pegawai dalam melayani pasien berbuntut pada pengeroyokan terhadap Taufik.

“Tidak ada alasan bagi RSUD dr. Soetomo untuk tidak melayani pasien miskin. Jangan jadikan Jamkesmas sebagai alasan. Jamkesmas itu tidak gratis, negara yang membayar,” tambah Kuswanto.

Sementara itu,  Kuswiyanto dari Fraksi PAN mengatakan tindakan tidak terpuji tersebut tak ubahnya seperti debt collector yang main tangan.

“Jangan ada gaya debt collector di rumah sakit, itu tidak bisa dotoleransi,” ujar Kuswiyanto.

Kuswiyanto justru menduga kasus serupa pasti pernah terjadi, namun para pasien yang tidak memiliki niatan untuk melaporkan ke media ataupun ke instansi yang bersangkutan. Pihaknya juga tidak menoleransi alasan apapun yang diberikan petugas sehingga terjadi kasus tersebut.

“Tidak ada alasan untuk capek karena jam kerja sudah ditetapkan. Kalau gaji dipersoalkan, ya keluar saja kalau gaji tidak cocok. Pegawai seperti itu mestinya harus dicopot,” tandas Kuswiyanto.

Kuasa hukum Taufik, M. Sholeh, mengatakan bahwa kedatangan mereka ke gedung dewan bertujuan meminta agar pimpinan RSU dr. Soetomo dipanggil supaya kejadian yang dialami kliennya tidak menimpa orang lain.

Dalam pertemuan itu, Taufik menceritakan kronologi pengeroyokan yang dialami. Bermula dari mengantarkan seorang pasien asal Madura bernama Tari yang menderita tumor pada leher dan paha.  Berhubung terlalu lama menunggu di ruang poli jantung untuk membayar, karena tersiar akibat kesalahan teknis pada komputer kasir, membuat Taufik tambah geram. Ia menyarankan agar sistem pembayaran dilakukan secara manual saja mengingat saat itu masih banyak pasien yang mengantri, termasuk seorang ibu hamil di sampingnya.

Karena penampilan Taufik yang seadanya layaknya seorang seniman, pegawai kasir justru memandang sinis. Merasa diacuhkan, Taufik pun spontan mengeluarkan kata-kata “Kalau pelayanannya seperti itu, lebih baik pergi ke dukun saja”.  Taufik juga mengatakan bahwa jika gaji kurang pegawai berdemo, tetapi dalam memberikan pelayanan seperti tempe.

“Petugas itu kemudian memanggil petugas lain bernama Suaib. Tetapi saya tetap berkata ke ibu itu sambil menunjuk badge propinsi yang dipakainya. Saya berkata ibu seharusnya malu,” kata Taufik.

Sontak, petugas yang bernama Wika itu melayangkan bogem sebanyak dua kali ke wajah dan bibir Taufik. Tanpa dikomando sedikitnya 6 orang pegawai ikut mengeroyok Taufik.

Kalung dan kain ulos yang kemana-mana ikut bersama Taufik, putus dan sobek akibat dikeroyok. Tidak lama aksi tersebut dilerai oleh seorang tentara. Taufik pun langsung disuruh masuk ke sebuah ruangan bersama seorang polisi dan salah satu pegawai lain.

Taufik pun langsung melaporkan aksi pengeroyokan itu ke Polsek Gubeng, yang sebelumnya pegawai RSUD dr. Soetomo Surabaya itu meminta supaya diselesaikan secara musyawarah, namun ditolaknya. (ara)

2 Respon

Tinggalkan pesan "Dikeroyok, Taufik Monyong Lapor ke DPRD"