Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Diduga Lingkungan Tercemar Limbah B3, Warga Lakardowo Mengadu ke Gus Ipul

12 May 2017 // 18:20 // DAERAH, HEADLINE, PERISTIWA

20170512_112050

MOJOKERTO (suarakawan.com) – Ratusan warga dusun Kedungpalang, desa Lakardowo, kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, mengadukan nasibnya kepada Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf. Sudah lama warga di desa tersebut, mengalami penyakit gatal-gatal yang diduga karena lingkungannya tercemar limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Tak hanya orang tua dan dewasa, anak balita juga banyak mengalami sakit gatal-gatal. Meski sudah berkali-kali berobat ke dokter, penyakit yang dideritanya itu tak kunjung sembuh. Rasa sakit gatal-gatal di kulitnya berwarna kemerah-merahan.

”Saya sudah delapan kali periksa ke dokter. Tapi, gak sembuh sampai sekarang. Kadang kumat lagi. Kata dokter, penyakit itu berasal dari air yang biasa buat mandi,” kata Jamaudin (55), sambil menunjukkan sakit gatalnya kepada Gus Ipul saat mengunjungi rumahnya, Jumat (12/5).

Mendengar penjelasan dokter, Jamaudin dan warga dusun Kedungpalang lainnya mengaku enggan mengkonsumsi air sumur. Dirinya memilih membeli air galon, atau mendatangkan air dari Kecamatan Pacet untuk dibuat masak dan minum sehari-hari.

”Ini saya sudah enam bulan beli air untuk minum dan masak. Nggak berani kalau memakai air sumur karena sudah tercemar. Air sumur hanya saya pakai untuk mandi saja,” tandasnya.

Jamaudin tak sekedar menunjukkan sakit gatal di kulitnya. Dirumahnya yang berdinding gedek, dia menunjukkan tanah liat di dalam rumahnya yang berasal dari tanah urukan dihadapan Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf. Tanah itu diduga berasal dari sisa bakaran limbah B3.

Penyakit gatal-gatal yang dialaminya itu, juga diduga karena lingkungannya sudah tercemar timbunan limbah B3. Pasalnya, rumah warga sendiri dekat dengan pabrik pengolahan limbah B3 milik PT PRIA.

“Ini lihat Gus, warna tanahnya beda dengan tanah biasa. Saya meminta agar pemerintah memperhatikan nasib kami. Jangan dibiarkan terus menerus seperti ini,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Samaati, warga dusun Kedungpalang. Dia mengaku harus mengeluarkan uang lebih untuk membelia air bersih. Padahal, penghasilannya sebagai pemulung sangat minim.

”Saya buruh tandur dan memulung barang bekas pak. Penghasilan saya hanya Rp 35 ribu sehari. Masak cukup untuk membeli air, makan dan uang jajan cucu saya,” tandasnya.

Menurut dia, keluhan itu sudah sering disampaikan kepada perangkat desa dan Camat setempat. Sayangnya, sampai saat ini tidak ada tanggapan yang serius. ”Saya pernah sampai nangis waktu ketemu pak Camat. Tapi, pak Camat malah ketawa saja melihatnya,” ucapnya.

Sekadar diketahui, tiga dusun di desa Lakardowo harus membeli air bersih untuk minum dan memasak. Setiap dua hari sekali, warga patungan membeli air tangki dari Pacet senilai Rp 300 ribu. ”Kalau sebulan kira-kira pengeluarannya Rp 4,5 juta untuk satu dusun,” kata salah satu warga.

Saat berdialog dengan Warga, Gus Ipul juga mendapati dua anak balita yang mengalami sakit gatal-gatal. Di kulit tangan, kaki dan badan balita itu, terdapat bintik-bintik kemerahan. “Yang menderita gatal-gatal sekitar 342 orang, kabanyakan balita,” ucapnya.

Di depan warga, Gus Ipul mengaku akan menindaklanjuti keluhan mereka. Dia mengintruksikan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur untuk turun memeriksa kesehatan warga Lakardowo. ”Teman teman dari Dinkes Jatim segera turun untuk memeriksa penyakit yang diderita warga,” tegasnya. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini