Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Dewan Masjid Indonesia Surabaya Sayangkan Khutbah Jumat Diawasi

02 Jun 2014 // 19:21 // PILEG, POLITIK & PEMERINTAHAN

Dewan MasjidSURABAYA (Suarakawan.com) – Bak senjata makan tuan. Instruksi PDI Perjuangan untuk mengawasi para Khotib saat Khutbah Jumat, mendapat “serangan” bertubi-tubi dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka menolak khutbah Jumat diawasi oleh pihak tertentu.

Setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, kini giliran Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Surabaya yang menyayangkan keluarnya instruksi dari PDIP. Menurut Ketua DMI Kota Surabaya Arif Afandi, tindakan itu tidak patut dilakukan karena negara ini menjamin kebebasan kepada warganya untuk melakukan ibadah tanpa ada pembatasan dan pengawasan.

“Siapapun yang mengeluarkan pernyataan itu, saya kira tidak patut. Karena Khutbah Jumat adalah bagian dari ibadah umat Islam yang tidak perlu di batasi atau diawasi. Negara saja menjamin kebebasan beribadah,” katanya kepada wartawan di Surabaya, Senin (2/6).

Sebelumnya, Anggota Tim Sukses Jokowi-JK Eva Kusuma Sundari mengatakan, pihaknya meminta kepada kader partai yang beragama Islam untuk melakukan aksi intelijen terhadap masjid-masjid. Eva beralasan kampanye hitam terhadap pasangan Jokowi-Jusuf Kalla banyak terjadi di masjid-masjid. Kader PDIP juga diminta untuk merekam khutbah khatib di masjid.

Khutbah Jumat, kata Arif, adalah kesempatan bagi para Khotib untuk memberikan pencerahan kepada jamaah Jumat. Ia yakin, dalam Khutbah tersebut tidak ada provokasi atau apapun yang mengarah pada kepentingan politik. “Kalau provokasi untuk melakukan kebaikan ada karena Khutbah adalah mengajak berbuat taqwa,” ujarnya.

Mantan Wakil Walikota Surabaya ini juga yakin, para Khotib dalam menyampaikan Khutbahnya tahu batas-batas dan tidak provokatif. “Saya juga tidak setuju jika para khotib dianggap menebarkan provokasi kejelekan kepada para Jamaah,” tandasnya.

Dengan keluarnya instruksi tersebut, Arif menilai akan membuat kenyamanan beribadah umat Islam terganggu. Sama halnya jika instruksi itu diberlakukan kepada agama lain.

“Apakah agama lain nyaman juga dalam beribadah ketika penceramahnya diawasi karena dianggap memprovokasi jamaah. Sudah bukan jamannya lagi seperti itu,” tuturhnya.

Dia mencontohkan, Khotib dalam khutbah Jumat menyampaikan untuk memilih pemimpin yang amanah, pemimpin yang baik dengan kreteria-kreteria sesuai dengan keyakinan. Khutbah seperti itu, tidaklah provokatif. “Dan saya tidak setuju jika Khotib dianggap melakukan provokasi mendukung salah satu calon,” tegasnya. (Bng/era)

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda






  • Terkini