Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Derita Lumpuh Layu, Putri Terbaring di Tempat Tidur Selama 17 Tahun

31 Jan 2017 // 11:27 // HEADLINE, KAWAN KITA

unnamed

PURBALINGGA (suarakawan.com) – Sejak kecil hingga remaja, Feni Saputri Indahsari (17), tak bisa menikmati masa kanak-kanak hingga remaja. Gadis asal RT 3/RW 4 Desa Karangtalun, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga tidak beranjak dari tempat tidur rumahnya lantaran menderita lumpuh layuh (flaccid paralysis).

Sehari-hari, Putri menghabiskan waktu di sebuah kamar sempit yang belum selesai dibangun.

Dari penuturan ibunya, Tursinah (42), Putri, sapaannya, mengalami lumpuh sudah sejak bayi. Tulang-tulangnya seperti kaku, dan semakin bertambah usia justru tidak membesar. Tulangnya justru semakin mengecil.

Kulitnya juga berubah menjadi keriput. Sang ibu pernah membawanya ke puskesmas, rumah sakit dan pengobatan alternatif lainnya, tetapi tak membuahkan hasil. Akhirnya Tursinah pasrah dan memilih merawat Putri di rumah.

Sehari-harinya, Putri harus bergantung dengan sang ibu, mulai dari makan hingga buang air besar. Untuk menghidupi Putri dan keluarganya, Tursinah hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah melalui program bantuan Orang Dengan kecacatan Berat (ODKB) yang digelontorkan dari Kementerian Sosial.

“Sebelum dapat bantuan dari pemerintah, saya pernah bekerja di pabrik rambut. Penghasilan yang saya peroleh untuk menghidupi keluarga dan merawat putri. Namun, saya akhirnya saya harus keluar demi merawat putri,” tutur Tursinah, akhir pekan lalu.

Tursinah mengaku memutuskan keluar bekerja dari pabrik rambut untuk merawat putrinya. Kala itu, sang suami bisa diajak bergantian untuk merawat Putri.

Namun, kini ia harus menghadapi tantangan hidup itu sendiri. Sang suami memilih meninggalkan Tursinah dan Putri, pergi entah kemana.

“Kini saya harus menghadapi semuanya, harus mencari tambahan penghasilan dan merawat anak saya Putri. Sampai kapanpun, saya tidak akan menyia-nyiakan anak saya. Apapun kondisinya, karena dia amanah Tuhan untuk saya,” isak Tursinah.

Dari bantuan program ODKB, Tursinah mengaku mendapat Rp 600 ribu per bulan. Bantuan itu diberikan tiga bulan sekali dengan cara dirapel. Dengan uang Rp 1,8 juta, harus cukup untuk biaya hidup selama tiga bulan. Bantuan program tersebut berakhir pada Desember 2016.

Tursinah kebingungan untuk mencari bantuan lain. Dia hanya bisa mengandalkan bantuan tetangga yang memberikan pekerjaan serabutan dan bisa disambi karena tidak jauh dari rumah.

“Semua harus saya syukuri karena ini sudah menjadi kehendak Tuhan, saya hanya bisa berserah kepada-Nya,” tutur Tursinah yang mengaku ikhlas menghadapi apa yang dijalaninya.

Wakil Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi yang mengunjungi keluarga Tursinah dan mendapati Putri, merasa iba. Dia mencoba menguatkan hati sang ibu.

“Semoga Allah memberikan kekuatan lahir batin untuk keluarga ibu Tursinah dan anaknya Putri yang mengalami lumpuh,” ujarnya sembari meneteskan air mata melihat kondisi keluarga itu. (mer/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini