Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Derita Hidrosefalus, Bayi Haisa Tergolek Tanpa Perawatan Medis

12 Apr 2017 // 11:44 // HEADLINE, KAWAN KITA

IMG-20170412-WA0008

POLEWALI MANDAR (suarakawan.com) – Haisa, seorang bayi perempuan berusia 3 bulan yang tinggal di rumah panggung berdinding koran dan terpal plastik di Pulau Tangnga (Salama), Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Polman, Sulawesi Barat, tak mampu berobat ke rumah sakit.

Penyakit pembesaran kepala (hidrosefalus) yang diderita sejak lahir kini terus membesar. Kedua orangtuanya, Sahar dan Nursia yang berprofesi sebagai nelayan tradisional dan ibu rumah tangga ini mengaku tak mapu membawa anaknya ke rumah sakit karena alasan tak punya biaya.

Rumah milik Sahar dan Nursia terletak di Pulau Tangnga (Salama), Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar. Untuk menjangkau rumahnya, harus menumpang perahu tradisional yang akrab disebut warga dengan sebutan “taksi”.

Tiba di rumah panggung berukuran 4×5 meter ini, Haisa kecil sedang diayun ibunya. Haisa sendiri diketahui mengidap penyakit pembesaran kepala sejak seminggu setelah dilahirkan.

Meski usianya baru memasuki tiga bulan, namun kondisi kepalanya terus membesar. Sementara badannya tampak kurus kering.

Nursia, ibu sang bayi ini menuturkan, bayinya lahir prematur melalui operasi caesar di RSUD Polman. Karena lahir prematur, bayinya harus menjalani perawatan di mesin inkubator.

Dengan modal kartu layanan BPJS, persalinan Nursia pun tak ada kendala. Sejak menjalani perawatan di rumah sakit itulah, perawat dan dokter mengetahui bahwa bayi Haisa mengalami penyakit hidrosefalus.

Tak punya biaya

Dokter meyarankan Haisa agar segera dirujuk ke Makassar untuk menjalani operasi, namun ketua orangtuanya menolak karena alasan tidak mempunyai biaya. Biaya operasi mungkin ditanggung BPJS, namun biaya hidup keluarga di rumah sakit, apalagi tidak punya sanak famili di Makasar, diakui Sahar dan Nursia bukanlah biaya ringan bagi dirinya yang hanya berprofesi sebagai nelayan tradisonal dan ibu rumah tangga.

“Kami sendiri yang meminta keluar dari RSUD. Mungkin kalau biaya pengobatan anak saya masih ditanggung oleh BPJS, tapi untuk biaya hidup dan nginap keluarga selama di Makassar kami tidak punya,” kata Sahar diamini Nursia.

Bayi Haisa merupakan anak ke empat dari pasangan Sahar dan Nursia. Kedua orangtuanya tergolong kurang mampu. Sahari hanya seorang nelayan tradisional yang pendapatannya tak menentu, tergantung cuaca laut. Sementara istrinya, Nursia hanya ibu rumah tangga biasa.

Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana berukuran 4×5 meter. Rumah ini berdiri di atas lahan milik orang lain. Sebagian dinding rumahnya terbuat dari koran bekas dan terpal plastik. Sementara lantainya dibuat dari bilah bambu.

Di rumah tanpa sekat kamar-kamar inilah keluarga Sahar bersama empat anaknya tinggal satu rumah. Menurut pengakuan Nursia, saat masa kehamilannya, ia tak merasakan kelainan. Ia juga rutin memeriksakan kondisi kehamilannya ke Posyandu.

Namun, ia sudah tidak pernah lagi memeriksakan kesehatan bayinya sejak keluar dari RSUD. Haisa hanya kerap diperiksakan kepada bidan yang berkunjung ke rumahnya.

“Sering bidan datang periksa, tapi tidak pernah saya bawa ke rumah sakit lagi,” terang Nursia.

Kedua orangtua Haisa berharap ada uluran tangan dari pemerintah atau dermawan yang bersimpati demi kesembuhan anaknya.

“Kalau anak kami dirujuk ke Makassar, pastinya kami juga butuh biaya hidup selama di Makassar. Itu mi yang kami tidak punya biaya, Pak, makanya kami hanya pasrah melihat kondisi bayi kami yang kepalanya terus membesar,” tutur Sahar.(kc/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini