Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Dari Pelepah Pisang dan Kelapa, Kejaya Handicraft Banyuwangi Songsong MEA 2015

29 Sep 2015 // 09:45 // EKONOMI, UMKM
Salah satu pekerja Kejaya membuat kerajinan tas dari bahan pelepah buah Pisang

Salah satu pekerja Kejaya membuat kerajinan tas dari bahan pelepah buah Pisang

BANYUWANGI (suarakawan.com) – Industri kerajinan di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, tumbuh subur diitengah kondisi ekonomi yang lagi lesu. Para pelaku usaha kerajinan disana nyaris tak terpengaruh dengan melonjaknya nilai mata uang Dollar terhadap Rupiah yang membuat daya beli masyarakat turun.

Kejaya Handicraft, adalah salah satu contoh industri kerajinan di Desa Tambong, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi yang masih berdiri kokoh. Industri kerajinan milik Khotibin ini, bahkan siap menghadapi ketatnya persaingan pasar bebas Asia Tenggara atau yang lebih dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada akhir 2015 mendatang.

Kesiapan Kejaya menghadapi MEA 2015 ditunjukkan dengan banyaknya order yang diterima baik dari pengusaha lokal dan luar negeri. Hampir setiap hari, selalu saja ada pengusaha lokal dari Surabaya, Bali dan Jakarta mengorder jenis barang kerajinan yang diproduksi Kejaya.

Di luar negeri, hasil kerajinan Kejaya diekspor ke Amerika dan Eropa. Sebab, beberapa negara di Amerika dan Eropa menyukai kerajinan dari bahan-bahan alami. “Untuk Asia, kami kurang punya pasar. Seperti di Jepang dan Arab Saudi tak menyukai bahan alami,” kata Khotibin, pemilik Kejaya Handicraft saat ditemui di tempat usahanya, beberapa waktu lalu.

Barang-barang kerajinan yang diproduksi Kejaya, memang berbahan baku alami. Bahannya terbuat dari buah Pisang dan Kelapa. Misalnya, pelepah buah Pisang dipakai untuk kotak tisue, album dan tas. Buah kelapa dipakai untuk membuat BH, tas jinjing, dan lain-lain.

Pada awalnya, Kejaya memproduksi kerajinan dari pelepah pisang. Lalu beralih ke kelapa dengan memanfaatkan ampas, serat dan batok kelapa yang sudah tak terpakai. Peralihan bahan baku kerajinan ini semata-mata untuk memenuhi permintaan pasar.

Lambat laun bahan baku pelepah pisang sudah tergeser oleh kerajinan yang terbuat dari kelapa. Hingga sekarang, Kejaya sudah memproduksi barang kerajinan sebanyak 500 jenis. Antara lain, tas, tempat perhiasan, kotak, pigora, mebel-mebel kecil dan opium.

Harga barang kerajinan yang dijual bervariasi. Mulai dari yang termurah Rp 1.000 hingga termahal Rp 400 ribu.
“Setiap bulan Kejaya Handicraft bisa memproduksi 60 ribu lebih kerajinan tangan,” ucapnya.

Seperti pengusaha UMKM lain, Khotibin mengawali usahanya dari bawah. Berawal dari pekerjaan sales obat-obatan dan kosmetik di Bali, Khotibin membuka usaha bersama sang kakak, Toni pada tahun 1998. Keduanya merintis usaha kerajinan dari pelepah buah Pisang di Banyuwangi yang rusak.

Pohon Pisang yang rusak ditebangi dan dimanfaatkan untuk membuat tas. Dengan modal seadanya, Khotibin dan Toni membuat kerajinan dan memasarkan sendiri ke Bali. Saat itu, Khotibin tidak punya karyawan, sehingga kerajinan yang diproduksinya tidak banyak. “Cuma 60 tas kotak-kotak,” sergahnya.

Kini, Khotibin sudah memiliki ratusan karyawan, baik pekerja tetap dan borongan. Alhasil, dalam sebulan Kejaya? mampu memproduks puluhan ribu jenis kerajinan. “Alhamdulillah, hasilnya lumayan,” ucapnya tanpa menyebut nilai investasi yang didapatkan dari usaha kerajinan ini.

Pria paro baya ini mengakui jerih payahnya itu tak bisa dilepaskan dari peranan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi. Bantuan Pemkab Banyuwangi dirasakan sangat membantu dalam mengembangkan usaha kerajinannya.

Bantuan yang diberikan Pemkab Banyuwangi, tidak hanya dalam bentuk modal melalui kredit lunak di Bank. Tapi, juga dibantu memasarkan hasil kerajinan melalui pameran dan pelatihan-pelatihan, baik cara membuat kerajinan bagus dan memasarkan kerajinan melalui internet.

Internet marketing
Pemkab Banyuwangi menyadari betul akan pentingnya sarana internet untuk memasarkan produk UMKM di wilayahnya. Pemasaran melalui pameran dinilai sudah tidak ampuh lagi. Dampaknya terhadap pengembangan usaha maupun produksi tak terlalu signifikan.

Selain menghabiskan anggaran, terutama pameran yang diselenggarakan luar kota, atau bahkan luar negeri, masyarakat yang hadir di pameran tidak jelas dari kalangan mana saja. “Orang-orangnya itu-itu juga. Nggak ngefek,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Benar, memang harus ada alternatif atau upaya lain yang dapat mengembangkan usaha. Solusi yang paling tepat adalah pemasaran melalui internet. Pemkab Banyuwangi memberikan ruang pelatihan pemasaran melalui program “Internet marketing” kepada para pelaku UMKM agar lebih berkreasi.

Pelatihan-pelatihan dengan sasaran pelaku usaha itu diharapkan mampu lebih memperkenalkan sekaligus memperkuat jaringan. Dengan jaringan itu, maka pangsa pasar terjamin, khususnya di daerah maupun mancanegara yang menyukai kerajinan dengan bahan alami. “Sudah kami coba dan hasilnya luar biasa,” ucapnya.

Berdasar data Pemkab Banyuwangi pada April 2015, anak muda yang mengikui pelatihan “internet marketing” mencapai lebih dari 2.000 orang. Tujuannya mendorong kaum muda di Banyuwangi untuk memaksimalkan kreativitas menjadi aktivitas ekonomi produktif.

Dalam pelatihan tersebut, selain mengajarkan materi mengenai kewirausahaan oleh para praktisi, juga diharapkan mengubah pola pikir anak muda bahwa pekerjaan itu tidak harus dicari, tetapi diciptakan. “Yang menciptakan ini, bukan pekerjaan mudah,” cetusnya.

Data lain Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan jumlah pengguna internet di Indonesia sudah mencapai lebih dari 88,1 juta orang hingga akhir 2014. Rata-rata, pengeluaran dalam berbelanja melalui internet setiap tahunnya mencapai Rp 825.000.

Kemudian pada 2014 nilai transaksi belanja di internet di Indonesia mencapai Rp 21 triliun. Tahun ini diprediksi naik dua kali lipat hingga hampir Rp 50 triliun. “Pelatihan internet ini, sekaligus sebagai persiapan menghadapi MEA yang dimulai pada Desember 2015,” sergahnya.

Masuknya pasar bebas ASEAN di Indonesia, bagi Pemkab Banyuwangi bukan sesuatu hal yang ditakuti. Justru, sangat menguntungkan. Banyuwangi akan lebih maju karena dipastikan banyak pengunjung dari luar negeri yang datang ke Kabupaten paling ujung di Jawa Timur itu.

Kedatangan wisatawan manca negara diharapkan tertarik terhadap barang atau produksi karya masyarakat setempat. Dengan demikian, akan dapat meningkatkan taraf perekonomian para pelaku UMKM maupun warga setempat.

Kementerian Perindustrian sangat mendukung upaya Pemkab Banyuwangi memberikan pelatihan internet marketing, karena merupakan solusi untuk mengembangkan usaha pengrajin. Namun, para pelaku industri kerajinan itu ditekankan tetap memperhatikan masalah konsistensi dan komitmen dalam menjaga kualitas
produknya.

Selama bisa konsisten dan komitmen menjaga kualitas produk, pengusaha kerajinan tidak perlu kuatir dan akan tetap survive menjalankan usahanya. “Kebanyakan industri kerajinan itu kualitas produksinya berubah. Nah, yang tak konsisten itu jadi masalah,” kata Mughofur, Kasubdit Industri Material Dasar Logam (IMDL) Lainnya Kementerian Perindustrian.

Pentingnya konsistensi dan komitmen menjaga kualitas produk itu, sekaligus untuk menjaga hubungan bisnis dengan kolega. Kejaya Handicraft yang sudah memiliki pasar di Amerika dan Eropa diminta tidak perlu mengubah produk-produknya, hanya untuk meraih pasar di negara Asia.

“Kalau sudah bisa diterima di Amerika dan Eropa, itu berarti kualitasnya sudah bagus. Kalau kualitasnya bagus, yang lain pasti mengikuti. Jadi, ini masalah kualitas saja,” jelasnya. (Bambang)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda






  • Terkini