Dandong, Kota yang Menangguk Untung dari Ketertutupan Korea Utara

CINA (suarakawan.com) – Truk – truk kargo menderu menyeberangi Jembatan Persahabatan yang menghubungkan Korea Utara dan Cina. Truk-truk ini membawa barang bolak balik melintasi perbatasan. Jembatan itu membentang di atas Sungai Yalu yang membelah kedua negara. Kota Dandong di sisi Cina dan Shinuiju di seberang sungai. Kedua kota dihubungkan jembatan, jalan raya dan rel kereta api.

Dandong adalah pusat perdagangan dengan Korea Utara – sekitar 70 persen ekspor Cina ke negara tetangganya melewati kota itu.

Jika Anda ingin berbisnis dengan Korea Utara, semua ahlinya ada di sini. Salah satunya, Wang Yuangang yang sudah melakukannya selama 10 tahun. Ia adalah Direktur Perusahaan Perdagangan Kota Perbatasan Dandong yang menjual suku cadang untuk kendaraan berat. Mereka juga punya pabrik pembuatan mobil di Pyongyang

“Ada produk dari Cina yang jumlahnya tak terbatas memasuki Korea Utara. Barang-barang industri memenuhi sebagian besar kargo,” tutur Wang.

“Karena Korea Utara mengalami embargo ekonomi dari Amerika Serikat, mereka mengalami kekurangan dalam banyak hal termasuk pasokan listrik dan itu mempengaruhi perkembangan industri. Jadi negara itu butuh banyak pasokan dari kami. Selain mesin dan produk industri, mereka juga membutuhkan barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari seperti makanan, pakaian, dan barang rumah tangga.”

Menurut statistik bea cukai Cina, tahun lalu saja perdagangan antara kedua negara meningkat hingga lebih 60 persen. Nilainya mencapai Rp 53 triliyun dan Dandong-lah yang mendapatkan keuntungan itu.

Berada di tepi Sungai Yalu, Dandong adalah kota perbatasan terbesar Cina. Sebagian besar perdagangan yang lewat kota ini menuju Korea Utara. Tapi mereka juga berbisnis dengan Korea Selatan, Jepang dan Amerika Serikat.

Menurut Departemen Perdagangan Luar Negeri di Dandong, pemerintah daerah mengadakan tur pameran perdagangan tahunan sebanyak dua kali ke Korea Utara, yaitu pada musim semi dan gugur.

Jumlah peserta perjalanan ini sekarang terdiri dari ratusan pengusaha Cina. Oktober ini, Dandong juga akan mengadakan Ekspo Cina-Korea Utara yang pertama, meliputi isu ekonomi, budaya dan pariwisata. Ini semua sebagai bagian dari upaya kota itu untuk mengkonsolidasikan perannya sebagai pusat bagi perdagangan Korea Utara.

Majunya perdagangan membuat kafe-kafe bergaya Barat menjamur di seluruh kota dalam beberapa tahun belakangan. Di dalam salah satu kafe terasa aroma kuat kopi, bunyi permainan piano dan orang-orang yang sedang membuat kesepakatan bisnis.

Kesepakatan itu meliputi bisnis perumahan, impor barang, hingga tenaga kerja kontrak. Para pedagang Dandong sering bertindak sebagai perantara untuk membuat kesepakatan bagi orang luar yang ingin menjalin kontak di Korea Utara.

Wang Yuangan memimpin beberapa perjalanan ke Korea Utara untuk mencari informasi bisnis.

“Selama bertahun-tahun, Korea Utara mempraktikkan kebijakan ‘pintu tertutup’ terhadap dunia luar dan ini tetap sangat misterius. Banyak orang yang tertarik untuk berbisnis di sana, tapi sulit untuk masuk tanpa tahu mana kontak yang benar,” ujar Wang.

“Sulit bagi orang Cina yang datang dari luar Dandong untuk mendapatkan akses apalagi bagi orang asing. Jadi, banyak orang asing dan orang Cina dari provinsi lain datang pada kami untuk mencari bantuan. Saya sudah menjadi perantara berbagai kesepakatan bagi banyak orang asing, baik itu berkulit hitam, berkulit putih atau orang Asia Tenggara seperti orang Singapura dan Malaysia.”

Dandong tidak hanya soal jual beli barang. Perdagangan perbatasan juga mendorong industri jasa di daerah itu. Di pusat kota dan sepanjang sungai ada barisan hotel, pusat hiburan, restoran dan toko cinderamata. Mereka memenuhi kebutuhan penduduk lokal, pelaku bisnis dan bahkan turis. Pesta berlangsung hingga tengah malam di sini, tapi di Korea Utara yang hanya terletak di seberang sungai, lampu sudah dimatikan dan keadaan gelap gulita setelah jam 8 malam. Padahal merekalah alasan bagi semua kemakmuran ini.

Sebuah toko cinderamata dekat pinggir sungai memutar lagu rakyat Korea dengan keras. Misteri Korea Utara merupakan daya tarik yang kuat. Tapi karena negara itu masih tertutup, Dandong adalah tempat terdekat yang bisa dicapai. Dan ini mendatangkan banyak turis. Tahun lalu, Dandong menampung 26 juta turis lokal dan 400 ribu wisatawan asing – yang menyumbang Rp 40 triliyun pada perekonomian lokal.

Liu Yi, 32 tahun, mengelola dua hotel kelas melati yang dijalankan keluarga. Ia menanamkan modal sekitar Rp 760 juta rupiah untuk memulai bisnis ini – dan ia balik modal hanya dalam dua tahun. Ia bilang kesuksesan Dandong bukan hanya karena letaknya yang dekat dengan Korea Utara. Kaitan budaya dan bahasa juga memainkan peran penting.

“Di daerah ini ada minoritas etnis Korea Cina yang cukup besar. Juga ada banyak orang Korea Utara dan Selatan yang sudah tinggal di sini selama bertahun-tahun untuk berbisnis,” tutur Liu.

“Di musim panas, ada banyak turis. Sementara di musim dingin para pelanggan datang untuk perjalanan bisnis. Saya punya beberapa pelanggan Korea Utara yang datang untuk perdagangan perbatasan tapi tidak banyak.”

Pengusaha sukses lainnya, Kim punya restoran ‘Pyongyang Barbecue’ di pusat kota. Perempuan pengusaha ini anggota komunitas minoritas Chosun Cina, sebuah kelompok etnis Korea. Ia bilang restorannya yang berusia 10 tahun berfungsi ganda: sebagai kantor perjanjian perdagangan untuk Korea Utara dan untuk mendekatkan tautan bahasa dan budaya yang lintas perbatasan.

“Saya membuka restoran ini mempertahankan hubungan perdagangan perbatasan. Saya sering mengunjungi Korea Utara dan saya juga menyediakan jasa penerjemahan untuk pengusaha Cina dan Korea Utara,” ujar Kim.

“Restoran ini seperti kantor, tapi kadang-kadang restoran itu sendiri menghasilkan lebih banyak uang daripada perdagangan. Perdagangan kadang untung kadang rugi, tapi restoran selalu ada untuk menyambut para pelanggan. Keuntungannya lebih bisa diandalkan.”

Kim mengatakan kebanyakan pelanggannya adalah pengusaha Korea Utara dan Korea Selatan, yang biasanya datang untuk makan malam. Sementara para turis datang di siang hari. Dibandingkan yang lain, pelanggan Korea Utara lebih royal.

“Ini hanya restoran kecil, jadi rata-rata mereka membelanjakan Rp 380 – 500 ribu per orang. Tapi di restoran yang lebih besar tagihan bisa lebih dari Rp 2,8 juta. Biasanya orang Korea Utara yang membayari mitra bisnis Cina mereka. Umumnya, orang Korea Utara yang datang untuk berbisnis ke Dandong adalah orang kaya. Orang selalu bilang Korea Utara itu miskin, tapi tidak semuanya. Hanya masyarakat biasa saja yang miskin,” kata dia. (Lam Li Asia Calling Dandong – Cina / Era )

Artikel ini pertama kali disiarkan di Asia Calling, program berita radio aktual dari kawasan Asia yang diproduksi KBR68H, kantor berita radio independen di Indonesia. Asia Calling disiarkan dalam bahasa lokal di 10 negara di Asia. Temukan cerita lainnya dari Asia Calling di www.asiacalling.org.

 

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Dandong, Kota yang Menangguk Untung dari Ketertutupan Korea Utara"