Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

‘Dahsyat’ Dihentikan KPI, Begini Reaksi Netizen

30 Mar 2017 // 13:41 // BROADCAST, HEADLINE

images (32)

JAKARTA (suarakawan.com) – Program musik Dahsyat RCTI kembali dijatuhi sanksi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Kali ini, KPI memberi sanksi administratif penghentian sementara selama tiga hari untuk program yang dipandu Raffi Ahmad, Ayu Dewi, dan Denny Cagur tersebut.

Berbagai tanggapan datang dari penduduk dunia maya soal sanksi yang diterima Dahsyat. Ada yang sedih, tapi tidak sedikit juga yang justru bersyukur atas langkah tegas KPI. Netizen menganggap, kualitas Dahsyat sebagai program musik sudah luntur, karena lebih banyak diisi oleh candaan para pembawa acara.

“Gimana ya, saya ngeliat acara Dahsyat ini berasa dunia kalian aja para host dan penonton yg di sana. Sangat asik sendiri dengan segilintir candaan yg (maaf) sama sekali tidak bermutu. Acara ini istilahnya hanya menayangkan ledek2an tidak jelas yg diwadahi oleh stasiun tv dan disiarkan secara nasional. Jadi kasian rctinya. Padahal sy rasa tujuan awal acara ini bagus, hanya kontennya aja ledek2an, bercandaan konyol yg lama kelamaan jadi dinilai buruk oleh masyarakat,” tulis pemilik akun @nurulamalea di kolom komentar akun @dahsyat.musik.

Beberapa netizen mengungkapkan harapannya agar Dahsyat tidak hanya diberhentikan sementara saja. “Alhamdulillah knp g di stop slmny aja..sikap presenter kdg g sopan, kata2 niatny mau nglucu tp malah jelek.. Kata org jawa tuh saru….,” kata @alunanadya.

“Alhamdulillah dibanned sama KPI,lain kali buat pelanggaran yang lebih greget lagi yah supaya dihapus sekalian,” kata @mhanif_nugroho.

Sementara itu, @krista.chita berharap sanksi dari KPI bisa membuat Dahsyat bercermin dan memperbaiki kualitas. “Distop sama kpi semoga ada pembelajaran dan bisa berubah.”

“Cuman d berhentiin sementara 3hri aj kokk.itu pun di bulan april.gak pa2 iklhas,” tulis @cahyoadi90.

Seperti diberitakan sebelumnya, episode DahSyat yang ditayangkan pada 28 Februari 2017 pukul 09.11 WIB dan 1 Maret 2017 pukul 08.49 WIB dinilai melanggar aturan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) KPI. Demikian ditegaskan KPI Pusat dalam surat sanksinya yang disampaikan ke RCTI, Jumat, 24 Maret 2017.

Menurut keterangan KPI Pusat, pelanggaran program siaran Dahsyat memuat perkataan yang merendahkan seperti “p’a”, “pangeran sawan”, “ular kadut”, dan “jenglot”. Selain itu, terdapat adegan seorang pria yang mengendarai mobil dengan maju, mundur, dan rem mendadak dengan kondisi terdapat pria lain di dalam bagasi yang tertutup pada mobil tersebut.

Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas penghormatan terhadap nilai dan norma kesopanan dan kesusilaan, perlindungan terhadap anak, serta penggolongan program siaran.

Komisioner sekaligus Koordinator bidang Isi Siaran KPI Pusat, Hardly Stefano mengatakan, muatan perkataan dan perilaku tersebut seharusnya tidak ditayangkan, karena dapat memberi pengaruh buruk pada khalayak yang menonton. “Selama menjalankan sanksi tersebut, RCTI tidak diperkenankan menyiarkan program dengan format sejenis pada waktu siar yang sama atau waktu yang lain, sesuai dengan Pasal 80 ayat (2) SPS KPI Tahun 2012,” katanya.

Dalam surat sanksi penghentian sementara itu dijelaskan, sanksi penghentian sementara tayangan program Dahsyat RCTI selama tiga hari dilaksanakan pada 13, 14, dan 19 April 2017. (tc/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini