Curhat TKI Yang Bebas Dari Qisash Justru Karena Bantuan Majikan, Bukan Dari Pemerintah RI

Endang tengah menjaga tokonya

SURABAYA (suarakawan.com) – Tidak banyak yang tahu bahwa di kota Surabaya ada seorang Tenaga Kerja Indonesia yang pernah terancam hukuman  pancung di negera Arab Saudi.

Namun berkat kepedulian sang majikan tempat bekerja, Endang, warga Sukodono 1, Surabaya, bisa lolos dari hukuman Qisas atau pancung. Endang hanya menyesalkan sikap pemerintah Indonesia yang tidak mempedulikan nasib para TKI yang ada di luar negeri.

Dikuburnya dalam-dalam ingatan itu yang membuat dirinya dan keluarga trauma. Namun sejak munculnya kasus Ruyati, seorang TKW yang menjadi korban hukum Qisas di Arab Saudi, bayangan akan kasus tersebut kembali muncul dibenak Endang.

“Kasus Ruyati bukan salah pemerintah Arab yang tiba-tiba mengekusi. Tapi pemerintah RI yang memang tidak mau peduli. Dan saya adalah korban dari ketidak pedulian pemerintah RI.” kata Endang dengan tersenyum nista.

Endang terancam hukuman pancung atas kasus pemukulan yang berakibat tewasnya seorang warga Arab Saudi. Ya,  Lengkapnya Endang Hidayat. Pria yang dilahirkan 43 silam dari keluarga miskin ini merupakan anak pertama dari 3 bersaudara.

Kini ia sudah tinggal bersama  istri dan 3 anaknya di rumah yang sederhana di kawasan jalan Sukodono. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, ia membuka usaha peracangan di rumahnya. Hasil dari bekerja selama 7 tahun Arab Saudi.

Sambil menunggu pembeli, kepada suarakawan.com, Endang kembali bercerita tentang masa muda. Usai lulus dari  SMA Wijaya Putra, Endang tak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Kemiskinan membuatnya harus bekerja membantu orang tua yang hidup susah.

Setelah dua bulan menganggur, Endang diterima di sebuah Bank. Meski sebagai karyawan bawahan, namun cukup bisa untuk merubah kondisi perekonomian keluarganya. Dua tahun telah berjalan. Keluarga Endang mulai hidup sederhana, meski tidak kaya raya. Sisa gaji juga cukup untuk menikah.

Memasuki tahun ketiga, lahirlah anak pertama. Rejeki makin melimpah. Sayang, tak bisa bertahan lama. Dipenghujung tahun, Bank tempat dia bekerja dilikuidasi. Endang menganggur. Ekonomi merosot tajam.

Mei, 1993. Setelah 4 bulan menjadi pekerja serabutan, Endang diterima sebagai sopir taksi. Sembilan tahun berjalan, keadaan masih tetap sama. Penghasilan sopir, tak mampu mendongkrak. Gaji kerja sebulan, habis 3 minggu. Sisanya menghutang. 3 anak dan seorang istri hidup dengan kekurangan.

Tahun 2002, Endang memutuskan menjadi TKI di Arab Saudi. “Sebenarnya saya tidak capek hidup miskin. Tapi, mana ada suami yang tega melihat anak istri terlantar.” ujarnya.

Meski dengan berat hati meninggalkan keluarga, berangkatlah Endang ke Arab Saudi. Dia bekerja sebagai sopir pribadi di Riyad, Arab Saudi. Perekonomian keluarga Endang kembali pulih. Setiap bulan ia mampu mengirim uang Rp 1.800.000 untuk istrinya.

5 tahun berjalan, Endang kesandung masalah. Di pagi yang mendung, di Kota Riyad, Arab Saudi. Seorang warga Arab menghina Endang, kebangsaannya dengan bahasa Arab.

“Hei, orang Indonesia. Semua orang Indonesia menjijikkan. Kotor dan jahat.” kata Endang menirukannya.”

“Semua negara sama. Orang Indonesia ada yang baik dan ada yang jahat. Sama juga seperti Arab. Ada yang baik dan ada yang jahat.” jawab Endang.

Jawaban endang membuat si musuh naik pitam. Terjadilah perkelahian. Meski mengalah dan tak membalas, pada akhirnya Endang habis kesabaran. Satu pukulan Endang tepat mengenai ulu hati musuhnya. Musuh tewas di tempat. Endang ditangkap.  Hukuman Qisas di depan mata.

Majikan Endang melapor ke KBRI di Arab Saudi minta bantuan penerjemah. Tapi KBRI tidak ada respon. “Harus menunggu dari Jakarta dulu.” katanya.

3 Hari berlalu, sang Majikan kembali ke KBRI minta kejelasan. Tapi hasilnya sama. “Menunggu dari Jakarta” 7 hari telah berjalan. Masih tetap sama. Menunggu kabar jakarta. Di kantor KBRI, Sang Majikan naik pitam.
“Apa ini, sama warga negaranya sendiri kok susah. Indonesia payah. Saya datang ke sini hanya memintah penerjemah saja. Tidak minta bantuan hukum. Okeylah. Saya tidak akan meminta lagi. Biar saya urus sendiri pekerja saya.” kenang Endang menirukan gaya majikannya.

Endang mendekam di tahanan. Setiap satu bulan sekali hanya berkesempatan sekali untuk melihat matahari. “Silau sekali.” ingatnya.

Di penjara, dia satu sel dengan dua warga Filiphina yang terancam hukuman qisas denga kasus yang sama. Selema 10 bulan dipenjara, Endang hanya menangis teringat istri dan anak. Sementara pihak KBRI sama sekali tak ada kabar. Menjenguk pun tidak. Yang membuatnya iri adalah ketika ia selalu melihat pihak dubes Fhilipina yang hampir setiap minggu mendapingi warganya yang terancam hukuman Qisas.

“Bayangkan saja, Orang Filipina itu membunuh majikannya yang tidak menggaji. Yang satu membunuh warga jalanan. Tapi mereka bebas vonis berkat negaranya yang peduli. Saya iri sekali. Sakit sekali rasanya kalau ingat KBRI tidak mau peduli,” keluhnya.

Bahkan pihak KBRI sama sekali tidak menelepon keluarga Endang di rumah. Justru sang majikanlah yang kerap menelepon istri Endang dan meyakinkan bahwa suaminya keadaan baik baik saja.

10 Tahun di penjara, hanya sang Majikan yang mondar mandir berjuang untuk Endang yang bukan sebangsa dan serumpun. Berkat keuletan sang Majikan memohon keluarga korban dan membayar tebusan 1,5 miliar rupiah di pengadilan, akhirnya Endang lolos dari jeratan hukum. Endang bebas dari penjara pada tanggal 5 November 2007. Dan tak satu rupiah pun pemerintah RI memberi bantuan.

Endang kembali menghirup udara segar. Untuk membalas jasa, Endang ingin bekerja lagi pada sang majikan. Namun sang majikan menyuruh Endang pulang ke Indonesia agar cepat bertemu keuarga.

3 Bulan kemudian, Endang kembali ke Arab Saudi untuk bekerja pada majikannya lagi sebagai balas terima kasih. “Waktu saya ngurus paspor lagi untuk memperpanjang di Arab Saudi. ternyata pihak KBRI cuma bilang. Lho kasusnya sudah selesai ya? nggak terasa ya.” kata Endang menirukan komentar staf KBRI.

Sakit hati dengan kalimat itu, Endang kembali Indonesia dan memutuskan untuk tidak kembali Arab Saudi.Bersyukur rasanya bisa berkumpul dengan keluarga.

Namun sampai sekarang, Endang tak habis pikir dengan kelakukan para pejabat Indonesia. Jangankan untuk memberi bantuan hukum, untuk meminta penerjemah dalam sidang pun tak diindahkan. Padahal dia berangkat dengan PJTKI resmi.

Kini Endang memilih tinggal dan bekerja sebagai pedagang toko kelontong. Usaha sisa gaji di Arab. Endang juga berpesan kepada semua orang di Indonesia untuk tidak menjadi TKI, apalagi TKW karena negara ini telah terbukti gagal melindungi keluarganya. (bs/nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Curhat TKI Yang Bebas Dari Qisash Justru Karena Bantuan Majikan, Bukan Dari Pemerintah RI"