Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Budayawan Unej Kecam Pengawasan Khotbah Jumat

03 Jun 2014 // 17:21 // PILEG, POLITIK & PEMERINTAHAN

jokowi-kallaSURABAYA (suarakawan.com) – Kecaman terhadap instruksi PDIP untuk mengawasi Khotbah Jumat di Masjid, seakan tiada hentinya. Kali ini, kecaman datang dari Budayawan dan pakar kajian budaya Universitas Jember, Jawa Timur, Dr Ayu Sutarto.

Menurutnya, isu mengawasi khotbah Jumat itu tidak ada gunanya. Justru seharusnya tim pemenangan Capres-Cawapres menawarkan program-program yang memperhatikan kepentingan bangsa dalam jangka panjang. “Masjid kok diawasi? Masjid itu rumah Tuhan,” katanya ketika dihubungi Selasa (03/06).

Sebagaimana diberitakan media massa, sempat muncul perintah dari PDIP agar melakukan pengawasan ceramah di masjid, karena khawatir adanya kampanye hitam kepada Capres Joko Widodo menjelang Pemilu Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014 mendatang. “Isunya jangan isu murahan seperti itu,” tegasnya.

Dia meminta agar tawaran program kepada rakyat tidak dangkal. Mereka seharusnya melihat situasi sekarang ini seperti apa. Lalu, menawarkan kepada rakyat program-program yang memperhatikan kepentingan bangsa.

“Isunya jangan isu murahan seperti gaji dan tunjangan PNS dinaikkan, lalu SPP sekolah anak-anak dibebaskan atau gratis. Korupsi masih besar, pemberdayaan produk dalam negeri yang masih gagal, ketidakmampuan memberikan peluang yang sama untuk semua elemen bangsa. Mestinya hal-hal seperti itu ditangani,” paparnya.

Karenanya, Sutarto menyerukan kepada semua Capres dan Cawapres maupun para pendukung masing-masing agar menggunakan instrumen yang beradab dalam memikat pemilih. Masyarakat sekarang sudah cerdas dan pandai memilih siapa yang akan didukung.

“Percuma jika masing-masing Capres dan Cawapres adu program, tapi pendukung mereka menginventarisasi kelemahan lawan masing-masing, apakah itu aib politik maupun aib keluarga. Mohon maaf ini sangat tidak agamis kalau hanya menempuh cara itu untuk menang,” ujarnya.

Di sisi lain, Sutarto merasa kagum dengan Prabowo yang memiliki akar kuat dalam menciptakan relasi politik dengan pihak lain. Dalam waktu relatif singkat, Prabowo mampu merangkul beberapa tokoh politik dan Nahdlatul Ulama (NU) untuk mendukung perjuangannya.

“Bagaimana dia bisa bergerak cepat mendekati Pak Aqil (Ketua Umum Pengurus Besar NU Said Aqil Siradj), Pak Mahfud MD, serta partai-partai politik lain. Langkah Prabowo itu sangat luar biasa,” katanya.

Langkah Prabowo sejauh ini cukup meyakinkan di mata Sutarto. Kalau mau jujur, menurutnya, ada poin per poin yang perlu dicatat atas langkah Prabowo dalam mengatasi sebuah persoalan. Misalnya, ada kasus dugaan korupsi yang melibatkan Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali (partai pendukung Prabowo, Red).

“Toh akhirnya suara minor soal ini ke Prabowo hilang. Lalu bagaimana Golkar dan PKS merapat. Dalam tradisi Jawa, itu yang disebut ngendas-ngendasi atau selalu mendahului ramalan,” kata guru besar yang pernah menulis kajian folklore tentang Soekarno dan Soeharto ini.

Kepiawaian Prabowo ini tak lepas dari latar belakangnya. Pria kelahiran 17 Oktober 1951 itu adalah mantan komandan Korps Pasukan Khusus. Dia ahli strategi dalam banyak hal. Prabowo terbiasa dengan kondisi itu, karena di kesatuannya dulu dia dituntut bertindak cepat, akurat, dan all out. “Kita belum bertanya what next (apa langkah selanjutnya), dia sudah next (melangkah lebih lanjut, Red),” jelasnya.

Tak heran jika kemudian Sutarto menilai Prabowo adalah lawan sepadan Joko Widodo dalam pemilu presiden 9 Juli 2014. Jokowi muncul dengan modal citra dicintai rakyat. Sementara Prabowo menyimbolkan sebuah kekuatan politik yang sudah tertata sejak lama.

“Mereka representasi kekuatan yang seimbang dan podo joyonyo (sama hebatnya). Masing-masing punya pendukung yang sama-sama kuat,” kata dosen yang pernah menerima penghargaan Anugerah kebudayaan 2013 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini. (Bng)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini