Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

BNP2TKI: TKI Timur Tengah Minimal Lulusan SMA

16 Sep 2017 // 08:37 // EKONOMI, HEADLINE

tki

JAKARTA (suarakawan.com) – Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia akan melakukan terobosan terbaru dalam menempatkan tenaga kerja Indonesia ke Timur Tengah sesudah moratorium.

Kepala BNP2TKI Nusron Wahid menjelaskan bahwa perubahan pengirim TKI ke Timur Tengah itu dikarenakan karena banyak masalah yang terjadi di sana.

“Baik masalah Hukuman mati, kekerasan fisik, tindak perdangan orang, dan tidak ada program perlindungan sosial lainnya,” kata Nusron Wahid.

Tentunya, dengan adanya program penempatan TKI ke Timur Tengah ini, maka setiap para TKI yang akan bekerja si sana dilakukan seleksi administrasi lebih ketat dan nantinya dilatih-latih betul dari segi kemampuan baik bahasa maupun lain sebagainya. “Jadi lulusan SD enggak bisa, minimal harus SMA,” ujarnya.

Nusron menuturkan, bahwa yang menjadi pilot project dari program yang direncanakan itu ada empat negara yaitu Mekkah, Madinah, Jeddah dan Riyadh. Maka, program yang direncanakan BNP2TKI soal penempatan kerja bagi TKI ke Timur Tengah ini dikomunikasikan dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Tenaga Kerja.

Nusron menjelaskan, bahwa ada beberapa perubahan dalam model penempatan kerja bagi TKI ke Timur Tengah diantaranya, sebelum moratorium satu TKI satu keluarga, kontrak kerjanya hanya dengan majikan, orang yang menanggung tenaga kerja (kafil) dari majikan itu sendiri.

Kemudian, status dari TKI hanya bisa bekerja sebagai pembantu, jenis pekerjaan melekat 1 TKI yaitu sebagai housekepper, family cook, gardener, clener, carateker, child care worker.
Selain itu, sistem dan waktu kerjanya homestay di kafil dan 24 jam bekerja di majikan. Sedangkan, untuk gaji yang diterima perbulan satu orang TKI yaitu sekira 1.200 SR.

“Risikonya relatif sulit karena tergantung dengan kafil (majikan) yang sifatnya individu,” katanya.

Sedangkan, sesudah moratorium model penempatannya yaitu satu orang TKI hanya bekerja di satu rumah tangga hanya empat jam kerja sehari dan hanya tiga kali dalam seminggu.

Lalu, kontrak kerjanya dengan syarikh atau perusahaan penyalur TKI di Timur Tengah, penanggung jawabnya perusahaan itu sendiri, kerjan di hotel atau restauran.

Kemudian, kata Nusron, pekerjaanya tidak terlalu berat dan satu orang untuk careworker cukup mengerjakan tiga pekerjaan yaitu caretaker, child care worker dan baby sitter.(viv/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini